Dari tahun ke tahun jumlah investor pemula terus bertumbuh. Bahkan di bulan Juni 2020 ini jumlah investor tercatat sudah tembus 3 juta investor. Jumlah tersebut naik 22% dibandingkan jumlah investor tercatat di akhir tahun 2019. Artinya sepanjang tahun 2020 ini ada sekitar 600.000 investor baru di Indonesia. Di dalamnya itu termasuk investor saham, reksadana, obligasi dll. Buat kamu yang baru aja gabung di dunia saham mungkin kaget melihat fluktuasi harga saham di tahun 2020 ini. Ada saham-saham tertentu yang bisa naik lebih dari 5%. Bahkan ada saham yang naik sampai puluhan persen dalam 1 hari. Di sisi lain, ada momentum saat bursa saham anjlok cukup parah. Misalnya pas pengumuman PSBB total di Jakarta di September kemarin, IHSG turun sampai 5% dalam 1 hari. Banyak saham-saham perusahaan besar yang turun lebih dari 10% dalam 2 hari perdagangan.

Penurunan 2 hari itu bisa menyapu bersih semua keuntungan saham yang udah susah payah didapetin selama 1-2 bulan terakhir. Di tengah kenaikan dan penurunan harga saham yang tidak menentu, mungkin akhirnya ada di antara kamu yang salah ngambil keputusan. Namanya juga masih pemula, wajar banget kalau masih ngelakuin banyak kesalahan. Pada kesempatan kali ini, aku mau coba bantu proses belajar kamu dengan membahas kesalahan-kesalahan umum yang sering banget dilakukan trader atau investor saham pemula. Aku coba rangkum kesalahan-kesalahan trader atau investor senior yang sudah jatuh bangun menghadapi pasar modal. Kalau kata pepatah, orang pintar belajar dari kesalahan sendiri tapi kalau orang bijak belajar dari kesalahan orang lain.

Kesalahan yang pertama adalah terlalu cepat naruh modal dalam jumlah besar. Pernah ngalamin ga waktu awal-awal trading dan investasi saham, kamu dapetin keuntungan yang lumayan besar. Dengan pengetahuan seadanya kamu bisa langsung dapetin keuntungan sebesar itu. Setelah beberapa kali kamu nyoba beli saham, harganya itu selalu naik dan kamu dapetin untung yang lumayan besar dibandingkan orang lain. Biasanya kalau ada di kondisi tersebut, kita itu jadi berkhayal, coba aja kita taruh sebagian uang kita di saham tertentu, keuntungan yang didapat bisa jauh lebih besar. Di tahap itu kamu ngerasa terlalu optimis, dan akhirnya tergoda untuk simpen sebagian besar aset kamu dalam bentuk saham. Ini adalah salah satu kesalahan yang paling umum terjadi. Investor dan trader saham pemula terlalu optimis karena dapetin beginners luck dan terlalu cepat ngerasain dan belum paham sama investasi atau trading yang benar. Padahal keuntungan tersebut mungkin aja kamu dapetin karena kebetulan kamu mulai masuk pasar modal pas trend nya lagi naik. Atau istilah nya adalah bullish period. Setelah beberapa waktu, ketika fluktuasi harga saham mulai bergejolak, baru deh para pemula ini kena batunya dan panik karena mereka menyimpan terlalu banyak uang dalam bentuk saham. Padahal kalau masih pemula, jangan terlalu cepat bernafsu untuk mencari untung. Pemula itu sebaiknya bersabar dan belajar dulu dari berbagai sumber atau mentor yang tepat. Sambil pelan-pelan nambahin modalnya secara bertahap.

Kedua adalah terlalu sensitif sama berita atau informasi dari luar. Mungkin ada dari antara kamu yang pernah ngalamin udah bikin rencana trading atau investasi sendiri eh kita malah ragu sama hasil analisis kita karena terpengaruh sama berita dan pendapat orang lain. Dari yang tadinya mau hold saham tertentu untuk jangka panjang, begitu baca berita terkait perusahaannya, mendadak kita jadi ragu dan jual sahamnya. Ternyata beberapa hari kemudian ada berita lanjutan berupa klarifikasi dari berita sebelumnya dan harga sahamnya malah jadi naik tapi kita udah terlanjur jual di harga murah atau bisa jadi sebaliknya. Kita ngeliat headline berita bagus tentang sebuah perusahaan yang disebar di grup whatsapp atau grup telegram. Tanpa pertimbangan lebih lanjut, kita langsung reaktif beli sahamnya. Ternyata harga saham yang kita beli itu sudah terlalu mahal dan harga sahamnya malah turun setelah kita beli sahamnya. Ini juga salah satu kesalahan yang sering banget dilakuin pemula. Sebaiknya, kita itu ga reaktif untuk ambil keputusan beli atau jual saham cuma berdasarkan berita yang beredar. Karena berita itu adalah lagging indicator, yang muncul terlambat setelah harga sahamnya sudah bergerak naik atau turun drastis. Jadi percuma aja kalau kita bereaksi setelah melihat berita. Karena harganya udah bergerak duluan sebelum berita itu keluar.

Kesalahan ketiga adalah menilai perusahaan cuma pakai perasaan doang tanpa melihat data. Banyak banget pemula yang beli saham cuma hanya melihat secara fisik doang. Wah ini kan perusahaannya udah berdiri puluhan tahun, pasti fundamental bisnisnya kokoh. Produknya ada di mana-mana pasti perusahaannya untung terus. Gedungnya mewah banget, pasti ini perusahaannya kaya. Padahal kalau mau menilai perusahaan, ya dengan baca laporan keuangannya. bukan pakai perasaan atau perkiraan doang. Kalau kamu udah baca laporan keuangannya, mungkin kamu akan kaget. Melihat perusahaan besar dan terkenal yang kelihatannya kokoh ternyata keuangannya rugi selama bertahun-tahun. Ada juga perusahaan yang lagi promosi besar-besaran secara agresif ternyata rasio keuangannya ga sehat dll.

Kesalahan keempat adalah terlalu mengandalkan analisis orang lain dan cuma mau nyontek dari hasil investasi orang lain. Pernah kepikiran ga sih , daripada capek-capek mikirin rencana investasi, mendingan kita nyontek investasi orang yang lebih jago dari kita aja. Kalau dia beli kita beli. Kalau dia jual ya kita juga jual. Kedengerannya simpel, gampang dan menguntungkan ya. Makanya banyak banget para pemula yang minta contekan dari grup telegram berbayar yang berisi sinyal jual beli saham yang hanya mengandalkan sinyal atas bisikan orang lain dalam trading atau investasi saham. Pada kenyataannya bisa dibilang ngandelin analisis orang lain itu ga akan efektif dalam jangka panjang. Karena setiap investor atau trader, punya trading dan investasi yang berbeda. Punya time horizon yang berbeda. Serta punya modal yang berbeda. Udah banyak banget investor pemula yang coba nyontek keputusan investor senior yang hebat. Kaya Pak Lo Kheng Hong. Ketika Pak Lo Kheng Hong beli saham tertentu, mereka ikutan beli. Apakah cara itu berhasil? Seringnya malah banyak yang nyangkut. Kenapa begitu sih? Apa keputusan Pak Lo Kheng Hong salah? Belum tentu, karena Pak Lo Kheng Hong punya time horizon yang berbeda. Tentunya punya modal yang sangat besar. Jadi ketika harga sahamnya terus turun, beliau bisa terus nambah posisi. Sementara modal kita udah habis duluan karena ga sabaran.

Kesalahan kelima adalah ga punya trading atau investing plan. Ini adalah kesalahan yang paling sering dilakuin yang jadi sumber kesalahan-kesalahan yang lain. Kenapa kita reaktif sama berita, karena kita ga punya rencana trading atau investing yang baik. Kenapa kita beli saham cuma pakai perasaan doang? ya karena kita ga punya trading plan juga. Terus gimana sih bikin rencana investasi yang baik? Intinya kita harus menentukan metode analisisnya. Timeframe investasi / tradingnya. Serta money management nya.

Semoga bermanfaat ya.
Bagi yang membutuhkan aplikasi keuangan dan jasa perencanaan keuangan bisa komen di bawah ya.

Flower photo created by kbza – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *