Bagi sebagian orang, crypto itu adalah bentuk aset digital yang diperdagangkan buat dapetin keuntungan berupa capital gain. Jadi kita beli crypto pakai uang fiat kaya rupiah atau dollar dengan harapan harga aset crypto nya akan naik. Terus kita jual deh di harga yang lebih mahal dari harga beli kita buat dapetin keuntungan. Jual crypto disini bisa kita artikan juga sebagai aktivitas gitu buat puter balik aset crypto kita sama uang fiat. Aset kekayaan kita dalam mata uang fiat bertumbuh dan kita bisa pakai deh buat kebutuhan atau keinginan kita. Tapi kamu tau ga, ada sekelompok orang di komunitas crypto yang mutusin untuk ga akan pernah menjual aset crypto mereka. Dan bertekad akan terus nyimpen aset crypto mereka seumur hidup sampai meninggal. Atau bahkan diwariskan ke generasi selanjutnya. Loh ko mereka ga mau ya jual cryptonya? Kalau gitu untuk apa dong nyimpen crypto kalau ga dijual lagi?
Bukannya crypto itu cuma aset digital buat ditradingin doang ya? Jadi kita beli, kalau harganya naik ya kita jual.

Sebelum menjawabnya, mari kita bahas orang-orang yang dimaksud, namanya Michael Saylor. Dia itu seorang entepreneur dan juga seorang insinyur, CEO nya Microstrategy. Jadi perusahaannya itu fokus untuk membangun software super canggih untuk melakukan analisis bisnis, pakai data yang banyak banget dan juga kompleks. Sampai artikel ini dibuat, Michael itu udah ngumpulin 111,000 bitcoin dan bertekad buat ga akan pernah ngejual bitcoin tersebut. 111,000 bitcoin kalau dihitung berapa triliun rupiah ya, ngapain sih dia beli bitcoin sebanyak itu? Kalau harganya jatuh nanti dia rugi besar dong. Kenapa sih uang sebanyak itu ga disimpen di investasi yang aman aja.

Selain Michael, ada juga cerita dari Changpeng Zao, dia itu founder sekaligus CEO dari Binance. Di tahun 2014, dia itu sampai jual apartemen nya buat akumulasi bitcoin sampai tahun 2015. Dan bitcoin itu tuh ga pernah dia jual sampai sekarang. Dalam beberapa tweet nya, ia bahkan mengaku kalau 99% harta kekayaannya itu dalam bentuk crypto. Dia udah ga berani untuk simpan dolar atau yuan dalam jumlah banyak. Kalaupun dia konversi cryptonya ke fiat, itu juga cuma buat kebutuhan belanja aja. Ko berani banget ya punya aset crypto dengan porsi sebesar itu. Padahal kan harganya berfluktuasi terus. Ternyata ga cuma orang super kaya kaya Michael dan Changpeng Zao aja yang punya gaya hidup kaya gitu. Banyak penggemar crypto yang sudah ngadopsi gaya hidup kaya gitu.

Beberapa pengakuan user di forum crypto kaya reddit atau twitter, banyak banget pengakuan seperti tadi. Kenapa ya mereka itu ga mau take profit aja? Terus gimana dong cara mereka bayar tagihan? Gimana cara mereka dapetin penghasilan rutin? Berarti nilai aset mereka naik turun drastis setiap detik dong? Kan bahaya juga. Sekarang, aku mau coba jelasin sedikit kenapa sih ada orang yang gamau ngejual aset crypto mereka, tapi sebelumnya aku mau disclaimer dulu. Kalau pembahasan ini bukan bermaksud buat ngajakin kamu untuk all in di crypto, atau convert semua aset kamu ke crypto. Aku cuma mau ngejelasin gimana pola pikir perspektif mereka yang bisa dibilang berbeda banget sama kebanyakan orang. Dengan ngejelasin sudut pandang mereka, semoga perspektif kamu tentang dunia keuangan jadi lebih luas dan terbuka.

Lanjut bahas kenapa mereka gamau jual aset mereka, faktor pertama adalah cara pandang mereka terhadap instrumen buat nyimpen nilai. Dalam pandangan umum, uang fiat yang diterbitkan sama bank sentral kaya dollar, yuan, euro, itu tuh instrumen buat nyimpen nilai. Sebuah alat ukur yang selalu kita jadikan patokan buat nentuin harga, biaya sebuah nilai aset atau kekayaan kita. Nah buat penggemar crypto yang udah fanatik bertahun-tahun, mereka itu sudah menggeser seluruh perspektif mereka terhadap instrumen buat nyimpen nilai ini. Buat mereka, crypto itu adalah aset yang lebih tepat sebagai alat ukur kekayaan mereka.
Mereka mungkin ga pernah ngitung aset kekayaan mereka dari sudut pandang fiat kaya dollar atau euro lagi. Tapi dengan satuan crypto kaya bitcoin atau ethereum. Makanya Changpeng Zao itu pernah ngetweet kaya gini “saya bukan ngebeli crypto seolah-olah saya itu ngeliat crypto sebagai aset yang nantinya bakal saya jual lagi. Saya beralih sepenuhnya ke crypto”.

Sekarang kita masuk ke alasan yang kedua, nilainya terus bertumbuh. Jadi para penggemar crypto itu melihat crypto sebagai aset yang terus bertumbuh dalam jangka panjang. Atau istilahnya itu adalah Deflationarry Asset. Inget ya jangan kebalik. Inflationarry Asset itu artinya aset yang nilainya terus berkurang. Sementara Deflationarry Asset kebalikannya, aset yang terus meningkat. Makanya kalau terjadi inflasi, ya artinya menurun. Harga barangnya jadi lebih mahal. Kalau deflasi ya berarti sebaliknya. Sekarang kita balik lagi ke crypto. Ko bisa ya orang-orang itu pada mikir bahwa crypto khususnya bitcoin adalah aset yang terdeflasi? Bukannya aset crypto itu naik turun terus ya? Kalau kita ngeliat dari perspektif jangka pendek, ia kita seolah-olah ngeliat harga bitcoin naik turun terus. Tapi coba lihat deh dari perspektif tahunan.

Sejak 10 tahun terakhir, harga terendah bitcoin itu terus meningkat kalau kita bandingin ke fiat kaya USD. Atau supaya lebih netral kita juga bisa nih bandingin harga titik terendah bitcoin sama harga 1kg beras. Terus kalau uang fiat gimana dong? Nah sebaliknya, uang fiat itu setiap tahun mengalami inflasi. Artinya nilai dan daya belinya terus menurun dari waktu ke waktu. Kita coba cek grafik inflasi yang mencerminkan daya beli USD. Atau kita juga bisa lihat inflasi rupiah yang bisa kita patok ke daya beli 1kg beras. Kenapa sih uang fiat itu mengalami inflasi dan crypto kaya bitcoin justru mengalami deflasi? Ada banyak faktor sebetulnya yang menyebabkan ini, tapi ada faktor yang cukup sederhana dalam faktor kelangkaannya.

Ingat prinsip ekonomi sederhana. Sesuatu yang jumlahnya makin banyak itu bakalan makin turun nilainya. Sementara yang jumlahnya terbatas dan makin langka ya nilainya bakalan makin tinggi. Itu juga berlaku untuk mata uang. Jumlah uang fiat yang beredar bakalan makin terus bertambah setiap tahunnya entah secara fisik ataupun digital. Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan juga kebutuhan transaksi. tapi aset crypto kaya bitcoin itu jumlah nya terkunci. Cuma bisa sampai 21 juta aja. Dan gabisa nambah lagi dan malah diprediksi peredarannya terus berkurang. Makanya nilainya itu bakalan terus bertumbuh seiring dengan semakin banyak negara dan instusi yang nerima bitcoin.

Sekarang kita masuk ke alasan yang ketiga, bisa jadi passive income. Sebetulnya aset crypto kita itu bisa kita suruh kerja dan ngehasilin pemasukan pasif buat kita. Nah ini dia yang mungkin belum banyak diketahui oleh publik. Kalau aset crypto itu bukan cuma objek yang ditradingin doang tapi juga bisa jadi aset produktif yang ngehasilin pasif income terus menerus. Jadi aset crypto mereka itu ga cuma diem aja di wallet atau portofolio. Tapi juga bisa kerja sampai nilainya terus compounding dan berlipat ganda. Emangnya gimana sih caranya crypto kita bisa jadi passive income? Sebetulnya ada banyak alternatif nih, misalnya dengan berkontribusi di blockchain world atau bisa disebut dengan staking.

Staking itu jadi sebetulnya kita ngunci aset crypto kita dalam periode waktu tertentu buat berkontribusi sebagai validator transaksi atau likuiditas dan akhirnya kita dapetin reward dalam bentuk crypto. Terus ada juga nih yield founding, dimana kita itu minjemin crypto kita dalam kontrak digital ke borrower atau peminjam. Dan akhirnya kita itu sebagai pemberi pinjaman bakalan dapetin jumlah hasil dalam periode waktu tertentu. Nah sampai sini mungkin kamu kepikiran nih, emangnya ada ya orang yang minjem aset dengan jaminan di dunia crypto? Justru banyak banget. Dan kebanyakan dari para peminjam itu adalah orang-orang yang hampir semua asetnya itu dalam bentuk crypto. Orang-orang yang seluruh asetnya dalam bentuk crypto ini sering ngelakuin pinjaman ke exchange berupa token fiat.

Misalnya itu kaya USDT atau BUSD yang akhirnya mereka pakai buat belanja kebutuhan sehari-hari. Terus jaminannya apa dong kalau mereka pinjem token? Jaminannya ya aset crypto yang mereka punya itu. Mereka jadikan jaminan atau kolateral pinjaman. Jadi kalau mereka sampai ga balikin nih pinjamannya, otomatis jaminan kolateral mereka itu hangus dan di cairkan untuk pemberi pinjaman. Wah, tapi kalau dipikir-pikir kan mereka punya aset crypto tuh kenapa ga dijual aja terus hasil penjualannya buat belanja kebutuhan sehari-hari? Justru itu poinnya, buat mereka daripada aset cryptonya dijual, ya mending disuruh kerja aja, atau ikut staking, sementara untuk kebutuhan sehari-hari, ya mereka tinggal pinjem aja USD token atau token fiat lain ke exchange.

Itulah kenapa sih banyak penggemar crypto yang mulai ngadopsi lifestyle kaya gini, dan mutusin untuk ga perlu ngejual crypto mereka sampai selamanya. Mereka pikir ya ngapain aset cryptonya dijual kalau misalkan bisa disuruh kerja dan dijadikan jaminan. Mungkin buat kita cara kaya gini tuh terdengar aneh dan asing. Tapi udah banyak juga yang buktiin mekanisme ini dan bisa dilakukan selama bertahun-tahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *