Di jaman sekarang, kita itu ibaratnya tidak tau rasanya cukup. Pengejaran kekayaan yang tiada akhir, tidak menghasilkan hidup yang bahagia. Berapa banyak sih yang kita butuhkan untuk merasa cukup? Apa sih tujuan kita mencari uang? Tentu saja setiap orang mempunyai tujuan yang berbeda. Namun, mayoritas dari kita pasti sepakat kalau tujuan utamanya adalah supaya dapat menjalani hidup yang baik. Hidup ini bisa dicapai, apabila kita tau rasanya cukup. Berhenti melakukan pengejaran keinginan yang tiada habisnya dan mulai menikmati hidup. Bila dirangkum, akan ada 3 hal penting dalam hal ini.

Pertama, pengejaran uang terus menerus.
Apakah kamu pernah iri dengan teman atau tetangga soal mobil barunya, liburan yang mewah, foto dia sedang makan di restoran mewah, dsb. Di 1 fase, semua orang pasti pernah iri. Ibaratnya seperti pepatah kalau rumput tetangga selalu lebih hijau, yang artinya apa yang dimiliki orang lain, dirasanya terlihat lebih baik daripada apa yang kita miliki. Namun, pengejaran barang material seperti ini membuat kita tidak pernah merasa puas. Hingga akhirnya muncul sebuah pertanyaan, berapa banyak untuk merasa cukup?

Pada tahun 1928, seorang ekonom terkenal bernama James Maynard Keynes memprediksi kalau tahun 2030, orang yang tinggal di barat akan hidup sangat makmur. Sehingga mereka tidak perlu bekerja lebih dari 3 jam sehari. Di 1 sisi prediksi ini tentu saja tepat. Dunia semakin kaya diukur dengan pendapatan per kapita,taraf hidup semakin meningkat, perkembangan teknologi telah meningkatkan efisiensi, dan banyak kebutuhan kita yang dapat terpenuhi dengan mudah. Namun di sisi lain, pekerjaan manusia hanya 15 jam per minggu tentu saja meleset sangat jauh. Hal ini disebabkan distribusi kekayaan yang tidak merata dan hanya dinikmati segelintir orang.
Sedangkan mayoritas populasi masih harus bekerja 40 jam seminggu atau bahkan lebih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sebagai contoh, 1% orang terkaya di Amerika Serikat mendapatkan sekitar 18% dari total pendapatan nasional. Sedangkan kelas menengah yang mampu menjalani kehidupan mewah, seringkali harus bekerja lebih dari 40 jam perminggu untuk mengejar kekayaan yang lebih besar lagi. Kemajuan teknologi yang pesat juga belum memberikan kemakmuran bagi banyak orang. Kenyataannya, inovasi ini menghasilkan banyak pekerja lepas dengan bayaran yang rendah. Ada pertanyaan yang menarik. Kenapa kamu membeli handphone baru, mobil baru, atau peralatan elektronik lainnya? Apakah karena memang harus beli? Karena barang yang kamu miliki sudah rusak? Atau karena kamu ingin menikmati teknologi baru?

Jawaban yang berbeda akan menentukan bagaimana hubungan kamu dengan uang. Walaupun dunia semakin makmur, manusia yang tinggal di dalamnya tidak semakin santai. Namun mereka malah bekerja semakin keras agar mampu membeli barang atau jasa yang mereka inginkan. Apalagi ditambah tekanan dari lingkungan sekitar, hal ini mendorong kita untuk menginginkan sesuatu yang dimiliki orang lain, atau mempunyai sesuatu yang membedakan kita dengan orang lain. Pemuasan keinginan yang tiada habisnya membuat kita tidak pernah merasa cukup.
Contohnya begini, di masa lalu, seorang bankir membeli sebuah properti dan kemudian memutuskan untuk menikmati masa pensiun. Namun di era sekarang, seorang bankir malah membeli properti lainnya untuk meningkatkan kekayaan. Walaupun usianya sudah senja. Nah apakah hidup di masa kini harus begitu?

Kedua, kriteria hidup yang baik.
Di era sekarang, kita ibaratnya sudah lupa rasanya cukup. Hidup untuk mengumpulkan kekayaan sepertinya dipahami sebagai sarana untuk bertahan hidup. Apalagi untuk mengukur sebuah negara merupakan negara yang makmur dan bertumbuh, kita masih menggunakan matrik pendapatan per kapita. Jika pendapatan perkapita sebuah negara naik, artinya kondisi ekonomi negara itu membaik. Namun faktanya, di United Kingdom walaupun pendapatan perkapitanya naik secara signifikan, tingkat kebahagiaannya juga tidak ikut naik. Kenapa hal ini bisa terjadi? Masalahnya, kalau studi ini bergantung pada penilaian subjektif individu tentang kebahagiaan mereka sendiri.

Namun, laporan berdasarkan penilaian pribadi selalu sangat bergantung pada konsepsi individu dan budaya tentang apa arti kebahagiaan. Tanpa konsep kebahagiaan yang dapat disepakati semua orang, statistik ini tidak akan memberi tau kita tentang kemungkinan hubungan antara kekayaan dan kebahagiaan. Skidelsky menawarkan metrik berbeda untuk mengukur hidup yang baik itu seperti apa. Dimulai dari pemenuhan hak dasar hidup manusia.

Pertama adalah kesehatan. Ini merupakan hak dasar yang harus dipenuhi setiap manusia agar bisa menjalani hidupnya dengan baik. Kesehatan disini bukan berarti kondisi tubuh yang tidak sakit. Tapi kondisi tubuh yang sehat secara rohani dan jasmani. Untuk mengukurnya, kita bisa menggunakan ekspektasi hidup manusia.
Kedua adalah keamanan. Manusia harus merasa aman dan terbebas dari perang, kejahatan, atau perubahan kondisi sosial ekonomi yang ekstrim. Kestabilan hidup ini merupakan faktor penting untuk mengukur hidup yang baik.
Ketiga adalah penghormatan. Menghormati seseorang berarti menunjukan dengan formalitas atau cara lain bahwa kita menganggap pandangan dan kepentingannya sebagai hal yang patut dipertimbangkan. Rasa hormat tidak berarti setuju atau ungkapan rasa suka. Seseorang bisa menghormati musuh tanpa berarti setuju pandangan yang dianutnya. Tapi itu menyiratkan pengakuan tertentu atau memperhitungkan sudut pandang orang lain. Kita bisa mengukurnya dari tingkat kesenjangan sosial di masyarakat.

Ketiga adalah menjalani hidup yang lebih baik.

Keempat adalah kepribadian.
Kepribadian disini artinya keahlian seseorang untuk menjalani hidup sesuai seleranya. Tempat tinggal adalah contoh penting dari kepribadian seseorang. Dimana hal ini memberikan seseorang kebebasan untuk mengekspresikan siapa dirinya. Hal ini bisa diukur dari jumlah kepemilikan seseorang di wilayah tersebut.

Kelima adalah hidup selaras dengan alam.
Hidup di era modern terkadang mengesampingkan keberadaan alam. Pembangunan yang semakin tinggi kadang berdampak buruk pada perusakan alam. Kenyataan ini membuat kita yang tinggal di perkotaan, sangat rindu untuk koneksi lagi dengan alam. Setiap kali ada libur panjang, pasti ada banyak orang yang berbondong-bondong untuk liburan ke tempat dengan pemandangan alam yang indah.

Keenam adalah persahabatan.
Di jaman kuno, persahabatan adalah sesuatu yang serius. Filsuf dari yunani kuno bernama Aristoteles, membedakan persahabatan menjadi 2 jenis. Berdasarkan kepentingan yang sama atau berdasarkan hiburan yang sama. Contohnya seperti ini, kamu bersahabat dengan seseorang karena bekerja di kantor yang sama atau memiliki hobi yang sama. Namun persahabatan sejati muncul ketika masing-masing pihak merangkul kebaikan satu sama lain hingga akhirnya mereka menyukai seseorang berdasarkan diri mereka apa adanya. Bukan berasal dari manfaat apa yang bisa mereka tawarkan.

Ketujuh adalah bersantai.
Kadang kita pikir, bersantai itu artinya kita tidak melakukan apa-apa atau isinya hanya bersenang-senang yang sifatnya pasif. Misalnya gini, nonton tv atau main medsos seharian. Kegiatan ini sifatnya pasif. Bahkan cenderung lebih cocok jika disebut sebagai istirahat daripada bersantai. Namun, bersantai bisa berarti kita melakukan sesuatu yang karena kita ingin melakukannya saja. Pekerjaan yang dibayar bisa menjadi aktivitas yang kita lakukan dalam bersantai apabila tidak punya tujuan utama untuk mencari uang namun hanya melakukan aktivitas tersebut. Misalnya seorang pelukis yang tetap pelukis, bahkan ketika lukisannya tidak dijual, atau ia bisa menghasilkan uang lebih banyak, jika mengerjakan hal lain.

Kita baru bisa menjalani hidup yang bahagia, ketika kita tau rasanya cukup. Keseimbangan antara pengejaran kekayaan dan menikmati hidup, adalah kunci hidup yang bahagia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *