Setidaknya ada 2 analisis saham yang paling umum dan yang paling sering dipelajari yaitu analisa fundamental dan analisa teknikal. Kenapa saya bilang yang paling umum itu cuma ada 2, karena sebenernya menganalisa saham itu ada banyak banget tekniknya. Dari yang masuk akal sampai ke yang ga masuk akal cara analisisnya. Contohnya, ada teknik analisa saham dengan ilmu eksak seperti gabungan matematika, fisika, dll. Sampai bahkan ada teknik analisa saham dengan cara melihat siklus pergerakan matahari, bulan dan juga planet yang disebut astronacci. Kamu boleh percaya boleh engga tapi yang menggunakan teknik tersebut itu beneran ada.

Tapi apakah saya menyebutkan bahwa teknik tersebut itu salah dan ga menghasilkan keuntungan? Tentu saja tidak ya. Karena ga mungkin suatu teknik ini dikenal sama orang lain tanpa ada cerita sukses di belakangnya. Tapi apapun tekniknya, kamu harus belajar dulu.
Saya akan bahas 2 analisis saham yang paling populer tadi yaitu analisis teknikal dan fundamental.

Analisis teknikal.
Kamu pasti pernah lihat grafik-grafik harga saham. Naik turun, warna hijau dan merah, candle stick, trend, resistance, support, dll. Semua hal yang berkaitan dengan grafik dan garis-garis itu disebut sebagai analisa teknikal. Kenapa sih kamu harus liat chart dan pergerakan harga itu? Karena analisa teknikal bekerja dengan cara menganalisis pergerakan harga yang terjadi di masa lampau dan memanfaatkannya untuk menentukan pergerakan harga di masa mendatang. Saya sendiri juga sering menggunakan teknik ini. Karena saya pikir ini gampang. HEHEHE.
Saya pribadi ga pernah belajar tentang ekonomi, namun ya saya meyakinkan diri ya bisalah baca beginian doang mah lah ya.

Ada uptrend, ada downtrend, ada sideways. Saya sebagai orang yang ga pernah belajar tentang ekonomi dan orang baru di dunia pasar modal adalah mencari yang gambaran grafiknya lagi uptrend dong? Karena kemungkinan besar untuk untung itu lebih besar dong. Dan sebisa mungkin saya akan menghindari saham yang grafiknya downtrend. Sedangkan kalau misalkan sideways, kamu bisa bayangin sendiri pergerakan harganya kaya gimana kan? Terdengar mudah bukan? Tapi pada kenyataannya di lapangan, tentu aja ga kaya gitu gampangnya. Banyak variasi dan pola-pola lain yang bikin saya bingung. Lalu apakah saya berhasil pakai teknik ini di bursa saham? Banyak engganya HEHEHE.

Saya merasa menjadi tidak cocok dengan teknik ini karena sedikit pusing melihat grafik yang seringnya tidak menentu. Saya menjadi malas melihat grafik dan investasi saham pada akhirnya. Karena saya pikir itu sulit dan butuh banyak waktu serta menghabiskan kinerja otak saya yang ga canggih ini. Kemudian beberapa bulan kemudian, semangat saya untuk menghasilkan uang di pasar modal datang lagi dan menggebu-gebu lagi seperti sebelum memulai dulu. Tapi saya ga memakai lagi analisa teknikal karena hati saya udah ngerasa ga mau aja gitu dan udah ngerasa ga cocok dengan analisa teknikal.

Akhirnya saya mencoba belajar analisa fundamental. Kalau kamu lihat disini saya secara ga langsung mengajarkan kalian untuk memakai analisa fundamental kan? Memaksa dan memberitahu kamu bahwa membeli perusahaan yang produknya harus kamu ketahui dulu. Kalau kamu ga tau produknya lebih baik kamu hindari. Saya sedikit memaksa kamu supaya kamu membuka laporan keuangan dan mempelajari sedikit-sedikit rasio keuangan. Supaya kamu tau kondisi keuangan perusahaannya sehat atau engga. Karena investasi di saham itu beresiko tinggi. Apalagi kalau kamu sendiri ga tau kalau perusahaan yang kamu beli itu kaya gimana.

Jadi yang bisa disimpulkan adalah analisa fundamental ini memaksa kamu untuk harus mengetahui apa yang mau kamu beli. Jangan sampai kamu membeli saham tapi kamu sendiri gatau sebenernya perusahaan itu tuh ngapain. Saham itu kan berbentuk lembaran. Jangan sampai kamu membeli lembar saham yang ga ada artinya. Atau lebih buruk lagi kamu gatau lembaran itu artinya apa. Jadi jangan sampai kamu berekspektasi ada orang yang mau membeli lembaran saham yang kamu punya di harga yang lebih tinggi dari harga yang kamu beli.
Keuntungan dari saham itu kan ada 2 ya, yaitu capital gain dan dividen. Kalau dari capital gain, apa sih alasan orang lain untuk membeli saham yang ada di tangan kamu sekarang dengan harga yang lebih tinggi gitu.

Kamu itu tidak membeli lembaran saham yang ga ada artinya. Lembaran saham itu memiliki bisnis asli di belakangnya. Bisnis yang melakukan kegiatan usaha demi mendapatkan keuntungan. Makanya masuk akal kan ketika saya menyarankan kamu harus tau produk dari perusahaan itu tuh apa. Dan cek kondisi keuangannya sehat atau engga. Coba kita ilustrasikan seperti ini :
Misalkan ada kedai kopi. Secara penampakan, kamu pasti gatau berapa sih harga dari semua barang yang ada di kedai kopi tersebut seandainya kedai ini mau dijual ke orang. Kamu harus buka laporan keuangannya. Di laporan keuangan yang disajikan, ternyata setelah ditotal-total kekayaannya dari kedai kopi ini adalah 10 juta. Kita bisa bilang wajarnya kalau kita mau beli kedai kopi tersebut ya kita harus mengeluarkan 10 juta.

Misalkan dia memecah kedai kopi ini menjadi 10 lembar saham. Yang artinya selembar itu mewakili 10% dari kepemilikan. Dan kamu mau beli 1 lembar sahamnya. Wajarnya kamu mengeluarkan uang 1 juta untuk 1 lembar sahamnya kan. Tapi kamu ditawarin harga selembar kedai kopi itu 500 ribu. Padahal kamu tau harusnya kan wajarnya 1 juta. Tapi ko ini ada yang jual di harga 500 ribu ya? Kamu harusnya bertanya-tanya dong, kenapa ya harganya lebih murah? Apakah usaha kedai kopinya ga laku sehingga ia jual dengan harga lebih murah? Apakah perusahaan ini ga menghasilkan keuntungan alias rugi terus? Setelah melakukan penyelidikan, kamu mendapatkan kesimpulan bahwa kopinya itu laku ko, kopinya enak dan tempat jualannya strategis.

Akhirnya kamu beli saham 500 ribu yang tadi ditawarkan. Karena kamu tau perusahaannya sebenernya baik-baik saja. Harga wajar sahamnya adalah 1 juta per lembarnya. Perhitungan sederhana seperti ini akan membuat kamu lebih yakin untuk membeli saham kedai kopi ini atau saham-saham perusahaan lain dalam hidup ini.
Warren Buffet seorang investor fundamental juga dalam keputusan investasinya juga pernah bilang : harga adalah sesuatu yang kamu bayar, sedangkan nilai / value adalah sesuatu yang kamu dapat. Dalam kedai kopi tadi, kamu menilai bahwa 500 ribu tadi adalah harga yang kamu bayarkan. Tapi value/nilai yang kamu dapatkan adalah 1 juta. Kamu bisa beli saham tersebut dengan tenang karena kamu tau value yang akan didapatkan nanti akan setengah kali lipat lebih tinggi daripada yang kamu beli saat ini.

Dari sini, kamu akan punya alasan minimal 1 : kamu pegang selembar kertas saham yang harganya 500 ribu padahal seharusnya di harga 1 juta. Kamupun pegang saham tersebut dengan tenang karena kamu bisa jual ke orang lain dengan harga 1 juta. Apalagi kalau analisis kamu itu bener bahwa penjualan kopinya tetap bagus terus. Ga akan selamanya harga saham 500 ribu kedai kopi tersebut tetap di 500 ribu. Karena lembaran ini melakukan bisnis beneran di belakangnya. Lembaran saham ini di dunia aslinya akan tetap melakukan penjualan selama usahanya baik-baik aja.

Di pasar modal, karena jumlah orang dan lembar sahamnya banyak banget, selalu terjadi jual dan beli secara terus menerus. Harganya terpaksa terombang ambing mengikuti seberapa banyak yang mau beli dan seberapa banyak yang mau jual di hari tersebut. Dan itu bener-bener diluar kendali kita. Harga suatu saham akan naik kalau yang mau beli lebih banyak daripada yang mau jual pada hari itu. Begitupun sebaliknya harga suatu saham akan turun ketika lebih banyak yang mau jual dibandingkan yang mau beli. Saking fluktuatifnya, pasar modal menjadi area bermain yang seru. Makanya banyak banget orang yang tertarik untuk mendapatkan keuntungan secara cepat di pasar modal. Karena hal tersebut. Syukur-syukur kalau kita memilih saham yang tepat.

Gimana? Seru kan? Apa malah pusing? Hehehe.. Jangan lupa sebarkan ke yang lainnya ya.

Background vector created by freepik – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *