Saya sudah banyak berbicara mengenai mindset. Sudah banyak juga artikel yang saya tulis mengenai mindset orang gagal, mindset orang miskin. Kesuksesan dan keberhasilan itu ga ditentukan dari apa yang kita punya. Tapi apa yang ada dalam kepala kita. Bukan pula tentang ilmu ataupun skill yang kita punya. Tapi tentang mindset kita. Cara pandang kita tentang kehidupan, cara pandang kita meresponi kesalahan dan kegagalan. Kesempatan kali ini kita akan belajar ciri-ciri orang yang tidak akan pernah berhasil. Ga peduli seberapa banyak pengetahuan, skill, atau bahkan uang yang ia miliki.

Ciri yang pertama adalah tidak berani untuk mencoba.
Kita ga akan pernah bisa menyetir mobil kalau kita ga pernah duduk di bangku kemudi. Kita ga akan pernah bisa naik sepeda kalau kita ga pernah belajar dan jatuh dari sepeda. Kita ga akan pernah bisa mahir berbahasa asing kalau kita ga pernah berkomunikasi dengan orang asing dengan bahasa mereka. Orang-orang gagal adalah orang-orang yang stick to one thick. Ga mau belajar hal baru, ga mau berubah. Dan hanya berani di zona nyaman mereka. Padahal untuk menemukan misi hidup kita yang sebenarnya, menjadi bahagia, bebas dari rasa khawatir, dan bebas finansial, kita harus mencoba berbagai macam hal. Mencoba berbagai macam hal baru terutama pada saat kita masih muda. Jangan mempunyai pandangan yang sempit, terus belajar, tapi kalian jangan sampai tertipu dengan aplikasi-aplikasi skema ponzi. Intinya pikiran kita harus terbuka dengan hal-hal baru. Mau mencoba hal-hal yang belum pernah kita coba.

Ciri yang kedua adalah orang yang menunggu disuruh.
Udah ga pernah mencoba hal baru, tiap action menunggu disuruh orang, helooooo kita ini manusia bukan robot. Kita punya harapan, punya keinginan, punya impian dan kita punya otak untuk berpikir. Kalau kita menunggu disuruh, apa bedanya kita dengan AI. Kecerdasan buatan saja punya algoritma yang bisa belajar sendiri. Orang-orang yang menunggu untuk disuruh ini ga akan action kalau ga ada orang yang memerintah. Misalkan menunggu disuruh orang tua, nenek, pimpinan, dll. Payah banget ga punya inisiatif dan hanya bisa menjadi pasif. Ibarat disiram air ga basah, dibakar api ga terbakar. Kadang saya sedih dengan tipe orang yang seperti ini.

Ciri yang ketiga adalah orang yang menunggu untuk diberitahu.
Suatu saat ada orang yang bercerita, enak ya buka kedai kopi, kemudian saya bertanya, kamu mau buka? Dia jawab mau sih tapi ga ada yang ngajarin saya. Atau ada yang lainnya mengatakan, enak yah trading crypto, saya tanya kamu mau coba? Dia jawab mau sih tapi ntar duitnya balik ga. Ada lagi yang ngomong wah enak ya punya channel youtube, saya bilang tinggal bikin aja, gampang kok bikinnya. Dijawab next time aja deh nunggu ada yang bener-bener mau ngajarin. Saya dalam hati dan otak berpikir, siapa mereka sampe orang mau datang sengaja dan meluangkan waktu untuk benar-benar mengajari mereka. Sementara mereka sendiri ga mau mencari informasi yang mereka butuhkan. Padahal per hari ini, semua pengetahuan itu hanya sejauh jempol loh. Apa sampe sebegitu malasnya ngetik, bagaimana caranya membuka kedai kopi? Bagaimana caranya trading cryptocurrency, bagaimana caranya membuat channel youtube. Semuanya ada di internet, tinggal menggunakan jempol saja. Orang-orang kaya gini yang ngetik aja males, gimana mau menghadapi tantangan yang ada di depan? Gimana mau menghadapi kedai kopi yang ternyata sepi? Gimana mau menghadapi harga koin yang ternyata turun drastis? Gimana mau menghadapi ketika channel kita tidak menghasilkan apapun? Orang seperti ini paling akan mengeluh, menyalahkan orang lain dan menyerah.

Ciri yang keempat adalah menunggu sampai ada orang lain yang berhasil.
Oke bila ada orang yang berhasil di bidang tersebut, mungkin kita sudah ketinggalan gerbong nya. Dan ketika sudah ada orang lain yang berhasil, kompetisinya akan jauh lebih berat. Waktu lautan masih biru, ga ada pesaing kita menunggu pesaing kita berhasil duluan baru mau take action. Sepertinya ada yang salah deh dengan mindsetnya. Sepertinya ada yang terbalik gitu pemikirannya. Namun ya begitulah pemikiran 80% kebanyakan orang. Kemudian ketika sudah ada yang berhasil, bilangnya : wah sudah susah nih bisnis ini, udah ada pesaingnya, udah ada pemain besar disana. Jadi mending bilang dan ngaku aja deh kalau takut gagal. Cuma menunggu disuruh, dikasih tau, menunggu didorong, menunggu dimotivasi, dll. Lebih baik kita mengaku dan menyadari kekurangan kita. Jadi kita bisa memperbaiki diri.

Ciri yang kelima adalah menunggu modal.
Modal itu dicari, bukan ditunggu. Bahkan beberapa bisnis bisa dilakukan tanpa modal. Lagian kalau kita punya mindset yang buruk, ga akan ada orang yang mau menanamkan modalnya pada kita. Ga akan ada orang yang mau invest di bisnis kita. Bagaimana kita bisa membuat orang lain percaya pada kita, sementara kita sendiri ga percaya pada diri kita sendiri. Jadi menunggu modal ini adalah alasan klasik biar ga action. Katanya menunggu modal usaha tapi hobinya boros luar biasa. Lifestyle nya tinggi banget, tiap hari ngafe, ke resto, beli baju baru, gadget baru, hiburan, nyicil ini itu, dll. Katanya butuh modal -.- Saya hanya bisa nangis liat orang-orang yang seperti ini.

Ciri yang keenam adalah menunggu pintar atau menunggu sampai expert duluan baru mau action.
Nah pertanyaan saya, gimana mau pintar kalau kita ga nyoba. Gimana mau pintar, kalau kita ga invest di diri kita sendiri. Gimana mau pintar kalau apa-apa menunggu disuruh. Gimana mau pintar kalau kita menunggu diajarin. Kalau kita mau pintar ya belajar. Seperti yang tadi saya bilang. Semuanya itu sudah ada hanya sejauh jangkauan jempol doang. Seringnya mereka yang menunggu sampai pintar atau expert ini dibarengi dengan sifat perfeksionis. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan seorang profesor university of florida, Gerry membagi 2 kelompok mahasiswa yang belajar fotografi. Yaitu kelompok quality dan kelompok quantity. Kelompok quality diwajibkan untuk fokus mendapatkan 1 foto terbaik. Sementara foto quantity fokus untuk mendapatkan jumlah foto. Di akhir penelitian, ditemukan peserta di kelompok quantity malah menghasilkan kualitas foto yang jauh lebih baik daripada kelompok quality. Jadi dapat disimpulkan, quality is on quantity.

Ciri yang ketujuh adalah menunggu waktu yang tepat.
Ada pepatah yang mengatakan, waktu terbaik menanam pohon adalah 5 tahun yang lalu. Dan waktu terbaik ke dua adalah sekarang. Kalau kita selalu menunggu, waktu terbaik itu ga akan pernah datang. Dan kita akan ketinggalan momentum. Yang penting kalian action aja. Mulai dari apa yang ada. Mulai dari apa yang kita punya sekarang.

Nah sekarang kita tau ciri-ciri orang yang tidak akan pernah bisa berhasil adalah orang yang selalu menunggu. Kesuksesan dan keberhasilan ga akan menunggu kamu. Kamu punya ide apa , action segera , meskipun kamu belum punya skillnya 100%. Terakhir kita berpikir kenapa kita punya mindset seperti itu. Mindset menunggu. Biasanya mindset itu dibentuk dari 3 sumber, yaitu keluarga, pendidikan dan orang lain yang dianggap memiliki pengaruh. Mindset menunggu biasanya dibentuk dari pola parenting asia. Yang terlalu otoriter dan overprotective. Alih-alih membebaskan anaknya dengan kreatifitas, orang asia lebih banyak dengan jangannya. Misalkan jangan duduk di depan pintu. Nanti kamu sulit jodoh. Jangan main waktu maghrib, jangan ini, jangan itu, banyak sekali jangannya. Dan ketika kita melanggar, hukuman sudah menanti yang pasti saya yakin maksudnya baik. Tapi itu membentuk mindset kita menjadi anak yang takut mencoba.

Takut melangkah tanpa approval orang lain. Dan mungkin mindset ini berguna pada saat kita masih kecil. Karena kita dianggap sebagai anak yang baik, anak yang penurut. Tapi ketika mindset ini terbawa hingga dewasa, malah menjadi penghalang untuk kesuksesan kita. Kita menjadi orang dewasa yang takut gagal, takut mencoba dan ga bisa memutuskan sesuatu. Kita menjadi orang dewasa dengan mindset kanak-kanak. Dan mindset itu sudah mensabotase pikiran kita. Biasanya kita mendengar teman-teman masa kecil kita yang bengal/nakal, biasanya mereka bisa menjadi orang yang berhasil pada saat dewasa. Anak-anak yang dulunya dianggap nakal, hopeless, bengal malah menjadi pahlawan untuk keluarga dan masyarakat. Karena mereka mempunyai mindset untuk berani mencoba. Dan ga menunggu approval orang lain untuk action. Ga perduli dengan pendapat orang lain, dan terus mencoba. Istilah jawanya itu dablek sampe menemukan formula yang tepat untuk dia sendiri agar bisa berhasil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *