Sebelumnya disclaimer terlebih dahulu ya, kalau kalian merasa ini membawa dampak kebaikan bagi hidup kalian, maka silahkan di aplikasikan ke dalam hidup kalian, tapi kalau ada yang dirasa kurang pas untuk kalian, ya tidak apa-apa, dilupakan saja karena saya belum tentu 100% benar. Karena berbeda pendapat itu hal yang wajar. Itu adalah pilihan karena hidup ini adalah pilihan.
Disini kita akan membahas mengenai sandwich generation. Sebelumnya, kita harus tau dulu ya apa sih sandwich generation itu.

Generasi sandwich ini adalah sebuah istilah yang menggambarkan posisi finansial yang terhimpit diantara generasi diatasnya dan generasi dibawahnya. Dan seperti sandwich kita ada di tengahnya. Bahasa gampangnya generasi kepepet, dipepet generasi atas dan generasi bawah. Generasi diatas contohnya bisa orang tua, nenek atau saudara yang lebih tua yang membutuhkan bantuan finansial, belum bebas finansial sementara biaya hidup semakin mahal. Sementara generasi bawah adalah generasi anak-anak atau cucu yang membutuhkan biaya hidup dan biaya hidupnya ga kalah tingginya. Jadi generasi sandwich ini menghidupi 3 generasi sekaligus. Generasi atas, generasi bawah dan mereka sendiri. Dampaknya, generasi sandwich ini lebih rentan mengalami depresi dan sering mengalami kelelahan baik secara fisik maupun mental. Dalam sebuah penelitian yang pernah dilakukan, 40% generasi sandwich merasa depresi berat.

Apa sih ciri-ciri generasi sandwich? Kamu adalah seorang generasi sandwich bila kamu adalah orang yang membiayai orang tua yang berusia 65 tahun keatas dan anak yang berusia dibawah 18 tahun sekaligus. Tapi kalian ga sendirian kok. Di beberapa belahan dunia yang lain juga ada generasi sandwich yang lain. Di amerika saja tercatat ada 10 juta generasi sandwich. Di united kingdom dan australia masing-masing tercatat 2-3 juta generasi sandwich. Sementara di china ada 35% usia produktif yang merupakan generasi sandwich. Dan korea saat ini menjadi juara dengan generasi sandwich terbanyak se asia. Nah ada beberapa tipe sandwich generation. Kita kupas satu per satu ya.

Yang pertama adalah traditional sandwich generation. Yaitu orang dewasa yang diapit oleh 2 generasi yang membutuhkan bantuan finansial. Diapit oleh generasi orang tua dan anak-anak.
Yang kedua adalah club sandwich generation. Ini sandwich generation level pro nih setelannya. Generasi ini diapit oleh 2 generasi diatas sekaligus dan 2 generasi di bawah sekaligus. Jadi orang tua ini adalah tulang punggung generasi kakek buyut dan orang tua serta anak-anak dan cucu. Luar biasa banget ya. Bad news nya semua membutuhkan bantuan finansial.
Yang ketiga adalah open face sandwich generation. Jadi ini siapapun yang terlibat dalam perawatan lansia. Mungkin merawat bibi atau paman yang tidak menikah.

Sandwich generation ini seperti lingkaran setan. Kalau ga diputus, akan terjadi sebuah lubang yang akan terjadi pada generasi berikutnya. Jadi ayah kita generasi sandwich, kita generasi sandwich, anak kita akan menjadi generasi sandwich, begitupula cucu kita akan menjadi generasi sandwich. Makanya harus ada orang yang berani memutus generasi sandwich ini. Dan ini bukan pekerjaan mudah, juga butuh action yang radikal. Nah pertanyaannya kemudian, kalau kamu generasi sandwich, bagaimana cara memutuskannya? Sekali lagi inget disclaimer di atas ya, kalau merasa ada yang ga pas ya ga usah diambil, lupakan saja.

Kita mulai dari yang pertama. Yang pertama adalah pelajari polanya. Jadi generasi sandwich ini ga tiba-tiba saja menjadi generasi sandwich, tapi semua pasti ada sebabnya. Jadi kita harus membedah, menganalisa, mengapa kita bisa menjadi generasi sandwich. Mungkin ada kesalahan finansial yang dilakukan oleh generasi di atas kita. Atau bisa juga kesalahan finansial yang kita lakukan sendiri. Entah karena kecerobohan kita sendiri, atau karena meniru managemen keuangan yang diajarkan oleh orang tua kita. Yang mana dia juga adalah generasi sandwich. Karena kemampuan mengelola keuangan biasanya diturunkan dari orang tua ke anak. Dan yang pasti kita ga diajarkan di sekolah. Makanya generasi sandwich ini bisa diteruskan turun menurun. Karena kita belajar, mengamati, dan meniru orang terdekat kita. Atau mungkin juga kita menjadi sandwich generation karena orang tua kita menikah beberapa kali. Atau mungkin orang tua kita mempunyai terlalu banyak anak. Jadi kalian pelajari polanya dan sebabnya mengapa kita menjadi sandwich generation. Agar kita ga mengalami kesalahan dan pola yang sama.

Kemudian yang kedua, kita belajar literasi keuangan. Setelah mengetahui sebabnya, sekarang kita memprioritaskan untuk belajar tentang literasi keuangan. Belajar mengelola keuangan, belajar mendapatkan penghasilan lebih, dan seringnya masalah kita bukan pada income power kita, tapi ada pada bagaimana cara kita mengelola keuangan kita. Kurang lebih ada 3 pola kebiasaan orang terkait dengan caranya mengelola keuangan.
Yang pertama adalah spender. Yaitu tipe orang yang menghabiskan pendapatannya. Bukannya ga punya high income. Mereka juga punya high income tapi punya high lifestyle. Mengira selalu ada pada usia produktif. Mengira langit selalu biru. Tipe optimis yang mengira masih mudah mendapatkan uang.
Yang kedua adalah saver. Mereka adalah orang-orang yang suka menabung.
Yang ketiga adalah investor. Akan dijelaskan di bawah ya.

Kemudian yang ketiga, kita harus berani mengurangi pengeluaran dan menambah pendapatan. Pada langkah yang ketiga, kita harus meniru tipe orang yang kedua yaitu menjadi saver, menjadi orang yang suka menabung. Baru setelah kita menjadi saver, kita bisa menjadi tipe orang yang selanjutnya yaitu menjadi investor. Menggunakan uang kita bukan untuk kebutuhan konsumtif, tapi menggunakannya untuk membeli aset dan membangun pohon uang kita.

Kemudian langkah yang keempat, mungkin ini adalah langkah yang paling berat yang harus kita lalui, yaitu stop membantu finansial keluarga terdekat kita. Seringnya generasi sandwich ini merasa tertekan dan terbeban dengan beban finansial karena secara kultur punya kewajiban untuk membantu keluarga terdekat. Apalagi kalau keluarga terdekat kita itu punya semua masalah. Utamanya masalah finansial. Ya langkah ini adalah langkah yang paling berat banget buat dijalani. Berat banget apalagi kita tinggal di kultur asia. Makanya negara-negara asia adalah negara dengan populasi sandwich generation terbanyak di dunia. Tapi sebagai orang yang mungkin masih berjuang, berjuang untuk berdiri sendiri, berjuang untuk membangun pohon uang sendiri, beban finansial lintas generasi yang sering menggagalkan banyak sekali rencana sandwich generation.

Rencana apa? Rencana untuk memutus rantai ini. Memutus rantai lingkaran setan ini. Karena ini seperti kutukan yang ga ada habisnya. Karena kalau kita sandwich generation bisa dipastikan bahwa orang tua kita juga sandwich generation dulunya. Kakek kita juga sandwich generation dulunya. Hanya mungkin istilahnya belum ada. Kemudian apakah kita mau membiarkan generasi di bawah kita, anak-anak kita, cucu kita juga menjadi sandwich generation seperti kita. Dan loop ini menjadi semakin susah diputus karena hilangnya banyak momentum. Hilangnya momentum dan kesempatan yang diakibatkan karena kesalahan prioritas keuangan. Uang yang seharusnya bisa untuk membangun pohon uang kita, malah digunakan untuk membantu orang lain, saudara kita atau mungkin generasi di atas kita yang membutuhkan bantuan finansial.

Padahal kalau kita punya pohon uang, kita bisa memutus rantai sandwich generation ini untuk selamanya. Dan kalau kita bisa memutuskan rantai ini untuk selamanya, kita juga bisa membantu keluarga yang lain. Bukan berarti ga membantu, tapi semuanya ada masanya. Karena misi kita ini ga hanya membantu, tapi juga mau memutuskan rantai ini. Kalau kita hanya membantu dan ga bisa memutuskan rantai ini, kemudian generasi di bawah kita malah menjadi sandwich generation, ya buat apa hidup kita? Untuk apa kita punya anak kalau kaya begitu? Itu ga berarti apa-apa untuk saya. Yang ada malah membuang-buang waktu dan menyimpan masalah yang semakin hari semakin besar.

Kemudian langkah ke lima adalah komunikasikan. Saya yakin banyak orang yang ga menerima pendapat saya di langkah yang sebelumnya, karena ya jujur itu berat banget memang. Padahal kalau kita punya pohon uang, kita bisa memutuskan rantai setan ini untuk selamanya loh teman-teman. Seolah-olah kita ini mencuekkan dan meninggalkan orang-orang yang kita kasihi. Tapi ibarat kita ini ada dalam sebuah kecelakaan pesawat, bayangkan pesawat kita jatuh di pegunungan alpen, sejauh mata memandang hanya ada salju. Dari penerbangan yang mematikan itu hanya tersisa 24 orang saja. 12 diantaranya lansia dan membutuhkan bantuan medis. Perjalanan menuju desa terdekat mungkin membutuhkan waktu 15 hari. Pertanyaan saya kira-kira apa yang akan kalian lakukan dalam keadaan seperti itu?

Ini plan A nya : kalian mengajak semua surviver, yang separuhnya adalah lansia, menembus tebalnya badai salju yang mungkin akan membuat perjalanan semakin lambat. Mungkin diperlukan waktu 30-50 hari untuk sampai. Sementara persediaan makanan yang kita punya hanya tersisa untuk 7 hari saja, jadi cukup dilematis, kasian sekali para lansia ini.
Ini plan B nya : kita menunggu disini saja untuk diselamatkan. Dan pada hari ke 8 ketika bahan makanan sudah habis, kita akan sama-sama meninggal atau kita saling memakan.
Ini plan C nya : kalian membagi 2 tim. Tim lansia stay di lokasi jatuhnya pesawat, tim orang-orang muda yang masih kuat berlari sekencang mungkin mencari bala bantuan. Dan kemudian kembali dengan tim SAR.

Nah kira-kira kalian nangkep ga maksud saya disini? Kira-kira kalian akan pilih opsi yang ke berapa?
Isi di kolom komentar ya.

Kemudian langkah yang ke enam adalah lakukan reverse engineering. Ini adalah metode untuk mencapai goal dengan cara seefektif mungkin. Dengan cara “berjalan mundur”. Untuk lebih detilnya kalian bisa cari artikel saya tentang reverse engineering ya (klik disini). Nah kalian masih inget tentang cerita pesawat kita tadi, kalau kalian memilih plan c kalian harus membuat plan dan strategi. Ini tentang kehidupan pribadi. Karena bahan makanan kita hanya cukup untuk 7 hari saja. Dan para lansia itu juga mungkin ga punya kekuatan atau stamina untuk menahan dinginnya gunung es.

Langkah yang ke tujuh adalah kita harus berkomitmen. Jadi setelah memilih plan dalam case ini, saya sendiri akan memilih plan c. Bagaimana dengan kalian? Kalau kalian juga memilih plan c, kalian harus berlari sekencang mungkin tetap berkomitmen untuk tidak menyerah apapun yang terjadi. Evaluasi dan ubah strategi bila perlu. Ingat para survivor lansia kita sudah menunggu di tempat jatuhnya pesawat. Dalam dunia nyata, ini adalah jatuhnya pesawat finansial keluarga kita. Logikanya sih mati bersama adalah pilihan konyol. Tapi sudah ada berapa banyak orang yang memilih pilihan ini dengan alasan kasihan, iba, ga tega, omongan orang lain, dll. Tapi satu hal yang saya percaya orang-orang yang kalian kasihi itu ga mau melihat kalian mati bersama mereka.

Tapi saya yakin mereka mau untuk menunggu. Menunggu kalian datang, datang membawa bala bantuan. Mengangkat, menyelamatkan mereka dan menjadikan jatuhnya pesawat finansial keluarga kita ini menjadi sebuah sejarah.

Image Designed by lesyaskripak / Freepik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *