Nah kesempatan kali ini saya akan membahas, kenapa banyak sekali orang tionghoa yang kaya. Dan ga sedikit dari mereka yang menjadi konglomerat di Indonesia. Coba kita lihat perusahaan-perusahaan seperti indofood, maspion, alfamart, ciputra, bogosari, avian, sinarmas, djarum, gudang garam, lippo, astra, akr, kalbe farma, mnc, pakuwon dsb. Sebagian besar dari mereka adalah orang tionghoa yang ga mulai dari keluarga kaya dan mungkin sebagian besar dari mereka mulai dari toko kelontong yang ala kadarnya saja. Tapi sebelum dibahas lebih lanjut, disclaimer ya karena ga semua orang tionghoa itu kaya, banyak juga orang tionghoa yang ga kaya. Jadi ungkapan bahwa orang tionghoa itu kaya itu adalah sesuatu yang terlalu generalisir. Tapi kalau rata-rata orang tionghoa adalah pengusaha, ya itu betul. Dan kali ini kita akan belajar mengapa orang tionghoa yang menjadi pengusaha itu kaya.

Alasan yang pertama adalah mereka terpaksa menjadi wirausaha. Ya menjadi pengusaha atau wirausaha jadi satu-satunya jalan keluar untuk mencari nafkah. Karena ga ada pilihan hidup yang lain. Karena rata-rata mereka orang-orang tionghoa jaman kakek buyut saya banyak dari mereka yang ga mendapatkan pendidikan formal. Tapi ga mendapatkan pendidikan formal bukan berarti ga berpendidikan ya teman-teman. Mereka ga bisa mendapatkan pendidikan formal karena sekolahnya ditutup, literaturnya dibakar, bahasanya dilarang, dan namanya ilegal. Namapun harus diganti. Makanya pada jaman dahulu, jadi PNS untuk orang tionghoa itu impossible. Jadi aparatur negara apalagi, mungkin ada tapi sangat sedikiiiiiiit sekali jumlahnya. Mungkin bisa 1 dari 1 juta orang. Jadi politikus apalagi, cuma mimpi di siang bolong. Mau jadi karyawan ga punya ijazah. Ya jadi solusinya ga ada pilihan lain kalau bukan jadi pengusaha, atau kalau masih belum punya cukup modal, ya bisa menjadi kuli kasar dulu. Yang ternyata ini bisa menjadi advantage di kemudian hari.

Saya punya seorang teman yang ayahnya dulunya adalah seorang supir bus, hingga akhirnya mampu membeli 1 bus kecil yang dikemudikan sendiri. Kemudian berkembang menjadi 2 bus, 3 bus, 4 bus, dan sekarang punya ratusan bus yang beroperasi setiap hari. Saya juga punya teman yang ayahnya dulunya bekerja di pabrik cat, dari menjadi kuli, mengetahui sistemnya dan cara pemasarannya, hingga akhirnya mencoba resepnya sendiri. Kemudian memberanikan diri untuk memproduksi cat kecil-kecilan. Di pasarkan kecil-kecilan, hingga akhirnya sekarang banyak digunakan oleh orang di seluruh indonesia. Ya masih banyak lagi sih cerita-cerita seperti itu, saya ga mention satu persatu.

Kemudian alasan kedua adalah menabung. Orang-orang tionghoa jaman dulu jaman generasi kakek atau buyut saya biasanya adalah orang yang sangat pelit sekali dan perhitungan dengan uang. Uang 1 sen pun dihitung. Karena mungkin di jaman dulu tuh mencari uang dan nafkah itu susahnya setengah mati. Ya mungkin bisa dibayangkan kalau teman-teman ini ada di tanah orang, ga punya uang, ga punya saudara, ga bisa makan, mungkin teman-teman juga ada dalam survival mode. Yang akhirnya menjadi sebuah habit. Bahkan beberapa temen-temen angkatan milenial pun , masih banyak yang mempunyai prinsip seperti ini. Orang tionghoa jaman dulu kalau punya uang ga akan dibelanjakan tapi ditabung. Ditabung dalam bentuk emas. Mereka membeli emas tapi tidak perhiasan tentunya. Tapi mereka membeli emas batangan. Jaman dulu nyimpen emas itu bukan di kulkas, karena jaman dulu punya kulkas itu sesuatu barang yang mewah. Tapi mereka simpan ditembok, di semen kalau perlu. Jadi ga akan bisa diambil.

Alasan yang ketiga adalah mereka orang yang mudah beradaptasi. Orang-orang tionghoa ini mudah sekali beradaptasi dan berasimilasi dengan sekitar. Buktinya dimana-mana diseluruh dunia ada yang namanya china town. Di amerika, delhi, jepang, semuanya ada china town. Apalagi di indonesia, mungkin di setiap kota ada china town nya. Jadi orang tionghoa ini meskipun sekolahnya di tutup, literaturnya di bakar, dan namanya diganti, mereka cepat beradaptasi, mereka cepat move on. Ga ngomong bahasa mandarinpun no problem. Mereka bisa ngomong dengan bahasa jawa, sunda, batak, no problem. Mereka cepat move on, cepet kerja lagi, cepet buka toko lagi, dan cepet cari cuan lagi.

Alasan keempat adalah persaudaraan sehidup semati. Saya pernah mendengar cerita orang tionghoa jaman dulu yang merantau ke negara lain atau ke daerah lain, persaudaraan mereka sangat kuat meskipun ga punya hubungan darah. Karena mereka mengikat persaudaraan saat mereka berada di atas kapal. Pada saat mereka terombang ambing tanpa tau tujuan yang jelas kapal ini mau kemana. Ada yang berakhir di singapura, maluku, flores, bahkan sampai di afrika ataupun india. Mereka meninggalkan seluruh keluarga dan harta bendanya. Dan diatas kapal ga sedikit dari mereka yang mengangkat saudara sehidup semati. Nah mirip seperti cerita-cerita di film china. Maka dari itu ketika mereka ada “saudara” yang sedang dalam kesulitan, biasanya mereka akan saling membantu. Baik suka dan duka dinikmati bersama. Ketika ada satu orang yang berhasil, maka derajat hidup temen-temen dan saudara yang ada di sekelilingnyapun akan meningkat.

Alasan yang kelima orang tionghoa mempunyai prinsip lebih baik jadi bos kecil daripada menjadi karyawan. Buat orang tionghoa, menjadi karyawan itu maaf adalah aib. Apalagi kalau kita sudah berusia 35 atau 40 tahun keatas, dan masih menjadi karyawan. Itu adalah tamparan untuk keluarga. Ya meskipun banyak orang tionghoa yang menjadi karyawan, biasanya mereka juga melakukan usaha kecil-kecilan. Karena prinsip orang tionghoa adalah lebih baik menjadi bos kecil daripada menjadi karyawan di perusahaan orang lain. Ini bukan tentang berapa banyak jumlah penghasilan kita tapi lebih pada selfpride.

Alasan yang keenam adalah di masa lalu tidak terbiasa menjadi karyawan. Rata-rata orang tionghoa yang merantau adalah bukan orang kaya, bukan orang-orang kelas menengah tetapi mereka adalah orang-orang golongan seperti pedagang, petani dll. Jarang sekali yang mempunyai background sebagai PNS, karyawan ataupun aparatur negara yang bermigrasi ke daerah lain. Apalagi di cina daratan pada saat itu belum ada era korporasi seperti sekarang. Era korporasi dan kapitalis cina baru dimulai pada tahun 1978. Pada saat deng xiaoping menjabat sebagai presiden china. Sementara arus migrasi orang tionghoa dimulai dari tahun 1400 hingga 1900an. Jadi orang tionghoa masa lalu yang bermigrasi sebelum masa deng xiaoping ga ada yang menjadi karyawan perusahaan swasta. Rata-rata mereka adalah pedagang atau wirausaha kecil.

Alasan yang ketujuh adalah doktrin wirausaha sejak dini. Doktrin wirausaha sudah diajarkan sejak kecil. Meskipun anak orang tionghoa ini diijinkan untuk belajar apapun yang dia mau, tapi ujung-ujungnya sebagian besar setelah lulus kuliah pasti ya disuruh pulang disuruh kembali untuk mengembangkan bisnis keluarga. Selain itu juga ditanamkan doktrin misalkan seperti menjadi pemiliki maskapai itu lebih enak daripada menjadi pilot. Menjadi pemilik rumah sakit itu lebih enak dibandingkan menjadi dokter. Dan lebih baik membesarkan usaha sendiri daripada usaha orang lain. Selain itu sejak kecil, anak-anak orang tionghoa biasanya lebih banyak menghabiskan waktunya untuk belajar atau membantu pekerjaan orang tua. Entah di toko atau di rumah. Jadi teman-teman akan jarang banget melihat anak-anak orang tionghoa yang main-main di jalan. Mereka adanya ya di toko, ikut kerja orang tuanya atau les.

Alasan yang kedelapan adalah karena saling membantu antar anggota keluarga. Sering kita lihat di perusahaan orang tionghoa, jajaran direksinya ya diisi dari orang-orang keluarganya sendiri. Jadi pada saat kita punya perusahaan, kita punya power untuk membantu anggota keluarga lain yang masih belum berhasil. Berbeda kalau kita bekerja di perusahaan orang. Setinggi-tingginya posisi kita, ga mungkin dong seluruh jajaran direksinya diganti dengan seluruh keluarga kita. Gimanapun itu masih perusahaan orang. Orang tionghoa juga punya prinsip family first. Dimana posisi pekerjaan yang lowong, diisi oleh anggota keluarga yang perlu pekerjaan terlebih dahulu. Sebelum diisi oleh orang luar. Kultur keluarga juga terjadi di struktur keluarga orang asia timur lain. Seperti korea, keluarga samsung, LG, dan hyundai.

Image Designed by starline / Freepik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *