Sebelum kalian membaca artikel part 2 ini, kalian harus banget wajib untuk baca part ke 1 nya ( klik disini ) supaya paham apa yang saya jelaskan ya.

Di artikel yang lalu kita sudah menjelaskan tentang fakta dibalik asuransi dan hidden fee nya. Nah disini kita akan membahas strategi bagaimana kita menciptakan asuransi kita sendiri dan siapa orang yang perlu asuransi. Sekarang bagaimana menciptakan asuransi kita sendiri? Yuk inget-inget tujuan awal kita yaitu yang pertama kita ga mau sakit. Solusinya ya kalian harus punya gaya hidup sehat. Menjaga kesehatan dengan olahraga dan makan makanan yang sehat. Orang bilang sakit itu datang sekonyong-konyong seperti ga diundang. Padahal penyakit itu datang ga secara tiba-tiba. Tapi dari hasil compound effect kebiasaan buruk yang sudah kita lakukan sejak bertahun-tahun. Setiap masalah pasti ada akarnya. Daripada kita membetulkan masalahnya, lebih baik kita potong akar masalahnya langsung. Setiap sakit pasti ada sebabnya. Lebih baik kita potong akar masalah penyebab sakit. Akar masalahnya kebanyakan adalah karena kebiasaan dan gaya hidup ga baik yang sepertinya sepele. Misalnya seperti telat makan, suka makan gorengan, seafood. Sering mengkonsumsi pinkiller tanpa mengidentifikasi penyebab sakitnya, dll. Kecuali untuk kalian yang sudah punya penyakit turunan ya. Tapi lebih baik kita meminimalisir dengan gaya hidup yang sehat.

Kedua, kita gamau kehilangan uang yang sudah kita dapatkan dari kerja keras kita. Solusinya kalian harus belajar tentang pendidikan keuangan. Belajar bagaimana mengelola keuangan. Yang ketiga, seandainya kita sakit kita gamau menyusahkan orang lain. Solusi ini akan kita bahas sesaat lagi bagaimana kita menciptakan asuransi kesehatan kita sendiri. Sebelumnya disclaimer dulu. Ini adalah pengalaman pribadi. Ga ada ajakan buat temen-temen melakukan hal yang sama karena kondisi setiap orang sangat berbeda. Berbeda kondisi latar belakan keluarga, berbeda kesehatan fisik dan mental, sehingga yang dimanifestasikan tentu saja bisa berbeda-beda. Mula-mula kita harus tau tentang beberapa jenis asuransi yang ada. Asuransi ada banyak. Beberapa diantaranya ada asuransi kesehatan, asuransi jiwa dan asuransi penyakit kritis. Asuransi kesehatan bisa digunakan saat kita memerlukan perawatan medis di rumah sakit. Asuransi penyakit kritis, bisa mencairkan uang pertanggungan sesuai dengan polis yang disetujui, saat kita didiagnosa sakit kritis. Asuransi jiwa akan mencairkan uang pertanggungan saat kita meninggal dunia. Disini yang akan saya bahas adalah asuransi kesehatan. Agar bahasan kita tetap on track dan ga melenceng kemana-mana.

Asuransi saya bersama dengan keluarga tadinya 1,5 juta sebulannya. Dengan jaminan pembayaran on bill sebesar 2 miliar. Dan mungkin selama hidup saya akan mengalami salah satu dari beberapa case ini. Misalkan case pertama, saya sakit keras. Saya merasa ini adalah case kemungkinan yang sangat amat kecil sekali. Pertama perusahaan asuransipun tau. Saya masih muda, dengan gaya hidup sehat, ga merokok, ga makan babi minyak seafood dll. Kalau saya sakit hingga habis 2 miliar kira-kira saya sakit apa? Mungkin hanya 0,000 sekian persen orang yang pernah sakit hingga habis miliaran di usia muda. Bukannya ga ada, pasti ada. Tapi saya yakin 1 juta persen yang pasti bukan saya. Kemudian case kedua, saya sakit ringan. Siapa tau saya sakit misal kena demam berdarah. Habis 25 juta misalkan. Kalau 25 juta sih saya bisa bayar cash saat itu juga lah. Dari mana? nanti saya jelaskan. Atau diparahin sedikit deh. Habis 50 juta. Masih bisa bayar juga kok. Case ketiga sakit bareng sekeluarga. Wah kecil kemungkinannya ya kecuali kena covid wkwkwk. Kalau sakit sekeluarga habis 100 juta misalkan. Masih bisa bayar juga kok. Darimana? Nanti ya saya jelaskan pokonya baca sampai habis. Case keempat, saya ga sakit keras selama 20 tahun dari sekarang. Puji Tuhan tentunya. Tentu semua berkat doa dan perlindungan dari Yang Maha Kuasa ya.

Jadi intinya dari keempat case ini , saya dan sekeluarga yakin saya tidak akan sakit. Saya mempercayai, saya mengimani, saya dan sekeluarga ga akan sakit keras. Kami diberikan perlindungan dan berkat kesehatan. Tapi saya tetap mengalokasikan dana premi kita untuk tabungan kesehatan. Jadi bagaimana strateginya membuat asuransi untuk kesehatan kita sendiri?
Saya tabungkan yang 1,5 juta tadi di reksadana pasar uang dan obligasi. Rutin tiap bulan tanpa absen. Nah ternyata dengan pertumbuhan 7,5% saja tabungan saya bertumbuh menjadi 1 milyar di tahun ke 20. Kalau saya ga sakit selama 30 tahun tabungan saya menjadi 2 milyar. Dengan tabungan ini saya ga lagi kuatir. Kalau saya sakit, saya bisa membayar sakit apapun onbill. Dengan tabungan kesehatan saya sendiri. Itu kalau kita nabungnya rutin ya tanpa ada tambahan nilai apapun dan tanpa memperhitungkan inflasi pada uang kita. Kalau saya meninggal, tabungan itu menjadi warisan untuk keluarga saya. Ini yang kita sebut dengan kekuatan compounding effect. Atau bisa juga kita bagi misalkan 50% di reksadana dan 50% nya di saham bluechip. Yang tingkat nilainya selalu bertumbuh setiap tahun. Hasilnya mungkin lebih banyak daripada yang diceritakan. Semuanya tanpa biaya akuisisi, tanpa cost of inssurance, dan biaya top upnya jauh lebih murah. Hanya 1%. Bisa diambil kapanpun, hanya tinggal 1x klik saja. Ga perlu susah-susah mengumpulkan dokumen, dan ga perlu menghadapi agent yang menghalangi kita untuk menarik dana kita.

Pertanyaannya sekarang, reksadana pasar uang apa aman ya? O jelas saja aman. Bahkan jauh lebih aman dibandingkan unitlink. Karena reksadana pasar uang dan obligasi diinvestasikan pada sertifikta bank indonesia, depostio dan obligasi yang jatuh temponya kurang dari setahun. Yang resiko gagal bayarnya amat sangat kecil. Dan selama masa pandemi corona, yang menghancurkan ekonomi dan IHSG sekalipun, reksadana dan obligasi masih tetep aman. Hanya sempet turun sekitar nol koma sekian persen saja. Padahal corona inikan pukulan telak untuk semuanya.
Bagaimana dengan saham? Meskipun ada naik turunnya semua bergantung pada keadaan ekonomi, dan keadaan fundamental perusahaan, tapi saham bluechip seperti bca dan bri selalu uptrend dalam longterm. Kalau dibilang aman ya tentu ada resikonya dibanding dengan reksadana atau obligasi. Buat kalian yang ga siap dengan naik turunnya harga saham dan IHSG, lebih baik kalian masuk dulu ke reksadana dan obligasi. Sebenernya unitlink juga ada naik dan turunnya. Bedanya kita ga mengikuti informasi mengenai naik turunnya nilai unitlink kita.

Sekarang, kan enak kalau asuransi sakit ditanggung? Apalagi biaya pengobatan ini makin lama makin mahal loh. Ya enak juga sih. Misalkan sekali sakit itu saya habis 100 juta ya. Syukur sudah ikut asuransi jadi ditanggung. Tapi jangan lupa, setelah kita keluar dari rumah sakit kan kita masih harus membayar premi asuransi yang mana jadi seperti kita nyicil di belakang. Dan nilai 100 juta ini adalah nilai yang sangat amat kecil bila dibandingkan dengan potensi investasi kita yang hilang. Potensi compounding effect kita. 100 juta vs 1 milyar. Sudah begitu ga semua penyakit ditanggung kan? Juga biaya preminya juga pasti naik setiap tahun. Ini untuk asuransi kesehatan ya. Lain cerita dengan asuransi penyakit kritis. Begitu kalian didiagnosa penyakit yang termasuk di dalam penyakit kritis, kalian langsung bisa mencairkan UP. Dan berhenti membayar premi.
Kemudian, kan ada nilai investasinya? Ada , tapi jangan lupa ada juga cost of inssurance yang naik setiap tahun, biaya top up dll. Yang pasti semua sudah ada hitungannya. Dan kita ga akan pernah bsia menang dari skema ini.
Saya ga ada ajakan untuk menarik dana dari asuransi kesehatan loh ya.
Saya hanya share pengalaman pribadi saya aja.
Keadaan kalian mungkin saja bisa jauh berbeda dari keadaan saya.

Nah pertanyaannya, kapan kita perlu asuransi? Dan apakah saya perlu asuransi? Kita perlu asuransi. Saat kita ga bisa menjamin kesehatan kita sendiri. Kita berada dalam lingkungan yang buruk, dan mungkin pekerjaan yang beresiko tinggi. Yang kedua, kita perlu asuransi saat kita ga mau pusing disiplin menabung tabungan dana darurat/tabungan kesehatan. Yang ketiga, khusus asuransi jiwa diperlukan saat kita ga bisa menjamin kehidupan keluarga kita pada saat kita meninggal. Terutama saat kita meninggal mendadak dan kita adalah karyawan.
Jadi kapan kita ga perlu asuransi? Yang pertama saat kita bisa menjamin kesehatan kita sendiri. Dengan keyakinan penuh, dan dengan gaya hidup sehat dan peace of mind. Yang kedua kita ga perlu asuransi, saat kita bisa disiplin diri menabung tabungan dana darurat atau tabungan kesehatan. Yang ketiga saat kita bisa menjamin pendapatan kita ga terdampak saat kita sakit atau bahkan saat kita meninggal dunia. Caranya dengan punya pohon uang atau bahkan perkebunan uang.

Waktu kita pergi meninggalkan keluarga kita dengan tabungan yang cukup dan perkebunan uang, kira-kira UP kita itu masih berarti ga ya? Jadi asuransi perlu atau enggak itu tergantung dari setiap individu. Semua tindakan yang dilakukan setelah membaca artikel saya, saya ga tanggungjawab loh ya. Tapi kamu pernah ga berpikir, bahwa yang kamu perlukan itu sebenernya bukan asuransi? Tapi literasi keuangan dan kesehatan. Jadi konsultasikan kembali dengan agen asuransi dan financial advisor kalian ya. Tentunya tetap critical thinking ya.
Jangan lupa share ya.

Background vector created by freepik – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *