Nabung pangkal kaya. Itu yang sering diajarkan kepada kita. Bahkan sewaktu kita masih kecil. Tapi kita pernah ga bertanya, apakah nabung itu bener-bener bikin kita jadi kaya? Kita akan bahas disini ya.

Ini adalah satu pernyataan yang sering kita dengar berkali-kali. Sampai sadar tidak sadar kita menganggap itu sebagai sebuah kesadaran. Padahal belum tentu ya temen-temen. Nabung aja, itu ga akan bisa bikin kita kaya temen-temen. Nabung aja ga cukup. Karena nabung aja itu kalah sama inflasi. Apa sih inflasi itu. Ilustrasinya seperti ini : Di tahun 2000 ada bakmie harganya 15 ribu. 20 tahun kemudian di tahun 2020 harganya jadi 35 ribu. Nah ini yang kita sebut dengan inflasi. Ada kenaikan harga yang tanpa kita sadari terjadi. Tau ga bunga bank indonesia itu rata-rata sekitar berapa? 3-4 persen pertahun itu sudah paling besar. Artinya kita ga akan bisa mengalahkan inflasi dengan sekedar menabung saja. Bahkan saya sempat bikin hitungan perbandingan antara tahun 2000 dengan 2020. Kalau kita menabung 10 juta di bank di tahun 2000 , di tahun 2020 dengan bunga bank tabungan kita menjadi sekitar 18.600.000 . Tapi yang kita jarang cek adalah 10 juta itu kalau kena inflasi jadi berapa? Jadi sekitar 36 jutaan. Artinya apa? Kalau dulu kita punya 10 juta, dan bisa beli bakmie tadi, 1 bakmi misalkan 10 juta. 20 tahun kemudian kita gabisa lagi beli bakmie yang sama loh. Karena bakmie yang sama itu harganya sudah jadi 36 juta.
Sementara tabungan kita tadi cuma bertumbuh jadi 18.600.000 doang.

Nah saya akan bagikan 3 level investasi yang bisa jadi solusi untuk mengalahkan inflasi tadi ya.

Level 1 – Obligasi
Ini adalah salah satu investasi yang menurut saya yang cenderung aman dengan pengembalian yang makesense banget. Karena kalau kita membeli obligasi negara, itu dilindungi oleh UU, dan dilindungi oleh pemerintah indonesia. Returnnya pun menurut saya cukup menarik. Biasanya diantara 5-8 persenan setahun. Tentunya dengan harga yang berbeda ya. Kalian bisa google sendiri beberapa jenis obligasi ini. Tapi saya akan sebutkan 4 yang menurut saya paling menarik. Ada yang namanya ORI (obligasi negara ritel). Ada yang namanya FR (fixed rate). Ada yang namanya SBR (savings bond ritel). Ada yang namanya sukuk. Nah sukuk ini akan sedikit saya highlight kenapa. Sukuk adalah investasi yang halal dalam arti sudah mendapatkan persetujuan dari MUI, kalian bisa cek lagi ya lebih lanjut sukuk ini seperti apa dan apa yang tersedia.

Level 2 – Reksadana
Reksadana ini sebenernya adalah produk turunan dari saham. Pada intinya ada begitu banyak emiten di saham yang bisa kita beli, kalau kita mau invest di setiap emiten itu. Tapi banyak dari kita ga punya cukup waktu untuk analisa perusahaan yang bagus, yang parameternya baik, manajemen dan operasionalnya baik, nah inilah kehadiran reksadana membantu kita temen-temen. Reksadana ini sama ujung-ujungnya akan dibelikan saham juga atau untuk membeli obligasi. Tapi ada manajer investasi yang akan membantu kita. Yang ngerjain PR nya lah buat kita. Kenapa saya bilang reksadana ini satu level diatas obligasi? Karena posibility untuk return nya itu lebih besar daripada obligasi. Contohnya reksadana pasar uang. Bisa memberikan return di 7-10 persen pertahunnya.

Setiap reksadana ini jeroannya beda-beda. Reksadana pasar uang kalau kita gali lebih dalamnya, rata-rata isinya adalah deposito dan obligasi. Kemudian reksadana obligasi, sesuai namanya rata-rata isinya adalah obligasi juga. Tapi lebih bervariasi mungkin ga cuma obligasi pemerintah ada juga obligasi dari korporasi. Kalau reksadana saham ya itu akan dibelikan emiten-emiten saham yang udah dipilih sama manager investasi. Nah sebelum membeli, pastikan kita udah melihat apa saja jeroan-jeroannya ya. Jadi temen-temen biasakan suka membuka prospektus dari setiap reksadana atau membuka kinerja reksadananya. Kita harus teliti jeroannya sebelum kita membeli.

Level 3 – Saham
Tentunya ini akan memiliki kompleksitas yang berbeda , tingkat resiko yang berbeda juga. Kalau kita ngeliat indeks kita selama 10 tahun terakhir dari 2009 sampai 2019, kita ga bicara soal pandemi dulu ya karena itu special case. Itu IHSG bertumbuh hampir 200% dalam kurun waktu 10 tahun. Artinya kita bisa mengambil tengahnya, setiap tahunnya IHSG itu bertumbuh rata-rata sekitar 10-12 persen. Kalau kita mengambil angka itu saja returnnya lebih tinggi dari kedua level diatas ya. Apalagi kalau kita bisa memilih saham yang tepat. Singapura juga dalam kurun waktu 10 tahun pertumbuhan indeks mereka itu 33%. Sementara indonesia 200%. Jadi potensi itu tetap ada apalagi kita sebagai investor lokal harusnya kita yang bisa lebih memanfaatkan ini ya.

Nah ada lagi nih investasi yang lebih besar daripada saham. Yaitu investasi ke diri sendiri. Investasi di bisnis kita sendiri. Jadi pada artikel ini saya mau ngajakin kita semua untuk lebih sering berpikir kritis, lebih sering berpikir praktis, bahwa menabung saja tidak akan bikin kita kaya. Kita harus punya ekstra effort lebih minimal untuk bisa mengalahkan inflasi.

Background photo created by denamorado – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *