Pada kesempatan kali ini, saya mau kasih informasi yang menurut saya penting untuk diketahui khususnya bagi teman-teman yang saat ini baru ingin membeli reksadana. Saya sendiri setelah hal ini mengambil keputusan untuk tidak memilih reksadana lagi dan mengalokasikan 100% dana investasi pada saham.

Teman-teman juga perhatikan, kebanyakan investor teliti hanya akan membeli reksadana pasar uang dan bukan reksadana campuran atau saham. Nanti juga saya akan jelaskan hal ini.

Satu-satunya kekurangan di reksadana Indonesia adalah biaya/ expense ratio yang dikenakan oleh setiap produk reksadana yang kita beli. Jadi kita tahu orang-orang lebih memilih reksadana karena produk ini lebih aman karena berisi beberapa aset yang terdiversifikasi tanpa repot-repot membeli saham satu-satu, dan tidak perlu takut salah beli saham karena sudah di manage oleh manajer investasi di reksadana tersebut.

Nah biaya gaji para manajer investasi ini adalah salah satu komponen yang dimasukkan ke dalam expense ratio tadi selain biaya switching, jual beli dsb.
Karena alasan kemudahan dan keamanan inilah yang membuat investor reksadana jauh lebih diminati ketimbang saham. Jumlah investor reksadana per 30 jul 2020 tercatat sebanyak 2,31 juta investor atau naik 30,5% dari tahun 2019. Sedangkan jumlah investor saham pada periode yang sama hanya 1,28 juta investor atau naik 15,88% dari tahun 2019.

Jadi jelas investor di Indonesia lebih memilih reksadana dibandingkan dengan saham. Dan ini juga bisa teman-teman amati, kebanyakan sekuritas lebih gencar mempromosikan produk reksadana daripada saham, kenapa? Ya karena pendapatan sekuritas dari manajer investasi jauh lebih besar daripada mempromosikan produk saham yang tidak kena komisi dan tidak ada expence ratio.

Oke sekarang saya kasih tau kenapa expence ratio sangat merugikan. Saya menggunakan contoh reksadana saham. Reksadana saham saya pilih karena generasi milenial pasti belinya ini untuk investasi jangka panjang. Reksadana campuran dan pasar uang secara return tidak akan bikin kamu kaya jika uangmu tidak banyak. Reksadana saham return nya beragam mulai dari 10% hingga 15% tergantung jenis dan kinerja manajer nya.

Nah coba teman-teman perhatikan di bagian expence rationya. Ini adalah biaya per tahun yang dikenakan kepada reksadana teman-teman setiap tahun baik itu untung ataupun rugi. Expence disini beragam, ada yang 1,5% hingga ada yang mencapai 6%. Kalau teman-teman tidak pernah membandingkan reksadana dengan ETF di luar negri misalnya yang rata-rata expence rationya hanya 0,0 sekian persen maka melihat expence ratio 1,5% teman-teman pasti merasakan ada yang salah.

Saya sendiri, saya hanya mau beli reksadana atau ETF yang expence ratio nya dibawah 0,5%. Ini penting. Sebagai info tambahan, reksadana saham itu ada 2 macam. Reksadana dikelola secara aktif, dan reksadana yang dikelola secara pasif. Reksadana pasif biasanya memiliki expence ratio yang jauh lebih rendah daripada reksadana aktif. Karena isi portofolio yang mengikuti saham-saham yang ada di sebuah indeks.

Ini bisa jadi lintah bagi investasi reksadana teman-teman. Selama ini beberapa manajer investasi bisa seenaknya menarik fee besar, dan para investor reksadana tidak pernah ngeuh dengan ini. Sekarang mari kita hitung emang seberapa besar sih expence ratio bisa merugikan kita?
Misalnya teman-teman inves 10000 dolar atau sekitar 120 juta di reksadana selama 20 tahun. Reksadana tersebut misalkan mampu memberikan imbal hasil 15% setiap tahun. Besarnya expence ratio adalah 1,5% per tahun. Jadi setelah 20 tahun inves reksadana, uang teman-teman akan berkembang menjadi 125.868 dolar. Dan ratio yang harus teman-teman bayarkan ke pihak reksadana sebesar 37.700 dolar atau sekitar 530 juta.

Jika teman-teman tidak membayar expence ratio, maka investasi teman-teman seharusnya bisa mencapai 163.600 dolar. Expence ratio 1,5% untuk ukuran reksadana lokal masih masuk akal lah, walaupun menurut saya sudah terlalu mahal. Sekarang masalahnya banyak investor pemula yang belum sadar, tidak pernah menghitung dan asal beli saja. Pertanyaannya adalah bagaimana jika investor membeli reksadana yang memiliki expence ratio 5% per tahun?

Sama seperti hitungan tadi, hanya expence ratio nya kita ganti menjadi 5%. Dan hasilnya cukup mantap. Total investasi anda selama 20 tahun akan diambil sebanyak 96 ribu dolar. Atau sekitar 1,3 miliar hanya untuk membayar expence ratio. Disini teman-teman bisa tahu bahwa hasil investasi reksadana bersih yang investor terima setelah expence ratio adalah 67.200 an dolar. Sedangkan expance fee yang diambil 96.300 an dolar. Artinya jumlah yang dikeluarkan untuk expence ratio malah justru lebih besar daripada jumlah investasi yang investor terima setelah 20 tahun.

Mungkin keajaiban konsep bunga berbunga seperti inilah yang membuat manajer artis jauh lebih kaya dibandingkan artisnya sendiri. Ini kenapa membeli reksadana yang dikelola secara aktif yang memiliki expence paling besar belum tentu bisa mengalahkan return dari saham yang teman-teman pilih sendiri. Dengan expence yang besar maka uang anda akan melahap inflasi dan biaya expence setiap tahun. Makanya jarang ada investor berpengalaman yang berinvestasi pada reksadana yang dikelola secara aktif.

Mereka biasanya hanya akan membeli reksadana pasar uang, untuk memarkir uang mereka secara jangka pendek. Paling banter mereka akan membeli reksadana indeks yang dikelola secara pasif. Banyak investor yang kebanyakan duit, bahkan tidak punya knowledge sama sekali , membeli reksadana yang expence ratio nya mencapai 5% .

Pokoknya patokannya, jangan pernah membeli reksadana yang expence nya di atas 1,5% . Solusi yang bisa teman-teman pertimbangkan adalah:

Yang pertama, daripada teman-teman beli reksadana, lebih baik teman-teman contek saja saham-saham yang berada di dalam portofolio reksadana, dengan mendownload fund fact sheet nya. Jangan lupa jika reksadana nya dikelola secara aktif , maka teman-teman juga wajib pantau saham-saham apa saja yang dijual dan dibeli dengan rutin di fund fact sheet nya yang terus di update.

Solusi lain adalah teman-teman beli saja saham-saham yang masuk di dalam indeks IDX30. Daripada teman-teman beli reksadana IDX30 yang kena fee 1,5% per tahun. lebih baik beli secara mandiri saja. Saham-saham yang masuk ke dalam indeks IDX30 adalah saham-saham yang memiliki likuiditas dan kapitalisasi pasar yang besar dengan fundamental yang baik. Tidak perlu semua, jika dana anda terbatas, cukup beli 10 saja yang menurut teman-teman terbaik.

Jadi tidak perlu takut beli saham seandainya ada 1 atau 2 saham yang nyungsep masih ada saham-saham bagus lainnya di dalam portofolio teman-teman. Untuk itu cobalah membagi rata jumlah dana yang teman-teman alokasikan untuk setiap saham.
Saham di Indonesia itu masih sangat undervalued dan potensi ke depannya masih sangat besar. Waktu kita terbatas maka dari itu jangan buang-buang waktu di reksadana yang charge fee nya begitu besar.

Buat apa teman-teman membeli reksadana yang imbal hasilnya mungkin bisa 15% per tahun tapi kena fee 5% per tahun. Belum lagi dikenai inflasi sekitar 3% per tahun. Langsung saja cari saham-saham bluechip yang sudah terbukti mampu memberikan return jauh di atas 15%. Belum lagi dapat dividen dan tidak usah bayar expence fee.

Semoga bermanfaat.

Image Designed by renata.s / Freepik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *