Kita semua mungkin sudah ga asing lagi sama yang namanya utang. Kalau ketinggalan dompet, ngutang dulu ke temen. Kalau kepepet di akhir bulan, ngutang dulu ke warung nasi. Saat ini, kita semakin dimanjain sama utang. Utang bukan lagi buat hal-hal yang kepepet doang. Tapi juga buat kebutuhan pokok, hiburan sampai modal usaha. Mulai dari kredit rumah, kredit kendaraan, kredit usaha, beli gadget, bahkan biaya liburan aja tuh bisa ngutang dan dibayar pakai cicilan. Hayo siapa aja disini yang suka ngutang? hehehe

Aku ngerti banget kalau di hidup ini ada aja saatnya kita kepepet dan butuh pinjaman uang. Di sisi lain, gak jarang juga nih kita dengar banyak masalah yang terjadi karena utang. Mulai dari dikejar-kejar sama debt collector, jatuh bangkrut, bahkan ada juga yang sampai masuk penjara gara-gara utang. Pernah kepikiran ga sih apa ngutang itu hal buruk? masih boleh dilakuin sesekali gak? Atau sebaiknya kita ga usah ngutang sama sekali? Nah disini aku mau bahas tentang hutang.

Pertama kita perlu ngebedain dulu hutang berdasarkan penggunaannya. Ada yang namanya hutang konsumtif, ada yang namanya hutang produktif. Kita bahas hutang konsumtif dulu ya. Gampangnya hutang konsumtif itu adalah hutang yang dipakai buat hal-hal yang berkaitan sama konsumsi. konsumsi disini tuh bisa macem-macem. Mulai dari kebutuhan yang esensial, sampai keinginan yang sifatnya hiburan, atau gaya-gayaan doang.

Utang konsumsi ini bisa dipersepsiin kaya kita minjem uang ke pemasukan kita di masa depan buat menuhin kebutuhan atau keinginan kita saat ini. Jadi nilai manfaat yang didapat dari utang konsumtif itu adalah pemenuhan kebutuhan atau keinginan yang lebih cepat dari seharusnya. Contoh utang konsumtif yang berkaitan sama kebutuhan itu misalnya utang buat beli makanan pokok, pendidikan anak, kredit rumah, pengobatan, hal-hal emergency dll. Sementara utang konsumtif yang berkaitan sama keinginan tuh contohnya utang buat beli gadget, hiburan, hobby, termasuk makanan fancy dan liburan. Jadi, utang konsumtif ini tuh perlu dibedain lagi nih, mana yang buat kebutuhan dan mana yang buat keinginan. Sekarang kita lanjut ke utang produktif.

Utang produktif itu adalah utang yang dipakai buat membeli, membuat atau mempelajari sesuatu yang bisa menjadi sumber penghasilan kita di masa depan. Jadi manfaat dari utang produktif ini adalah kesempatan untuk bisa punya aset atau menciptakan sumber penghasilan baru di masa depan. Contoh utang produktif itu adalah utang buat bikin usaha, utang untuk sertifikasi profesi tertentu, utang untuk beli tanah dan tanahnya dipakai buat bangun ruko atau kos-kosan atau bisa juga utang beli kendaraan buat dijadikan ojek online.

Biasanya cicilan dari utang produktif ini tuh bisa dibayar pakai penghasilan yang kita dapat dari sumber pemasukan baru yang kita bikin. Misalnya nih, kita ngajuin kredit buat beli satu unit apartemen. terus apartemen nya kita sewain. kita kan dapat biaya sewa tiap bulan tuh, biaya sewa itu bisa kita pakai buat bayar cicilan pembelian unit apartemen tersebut. Setelah kreditnya lunas, kita jadi punya satu aset yang bisa secara produktif menghasilkan uang buat kita.

Oke sekarang kamu sudah ngerti bedanya utang konsumtif dan utang produktif. Kalau kita balik lagi ke pertanyaan awal, apakah semua utang itu buruk? dan apakah sebaiknya kita ga usah ngutang sama sekali? jawabannya tergantung bentuk utangnya dulu seperti apa. yang jelas utang untuk konsumsi yang didasari keinginan doang itu sebaiknya ga dilakuin. Sementara dari sudut pandang keuangan , utang produktif dan utang konsumtif untuk kebutuhan tuh masih boleh dilakuin asalkan kita masih bisa memperhitungkan resiko dan kemampuan bayar kita buat melunasi hutang tersebut.

Kemampuan bayar utang tersebut bisa diliat dari rasio cicilan dan pendapatan bulanan. Maksudnya gimana? Simpelnya nih, cicilan utang kamu tuh berapa persen sih dari pendapatan kamu? kalau pendapatan kamu 5 juta, cicilan kamu 1 juta. Berarti rasio utang dan pendapatannya itu 20% . Secara umum, rasio utang yang baik itu ada di angka 30% an. Jadi maksimal cicilan kamu itu cuma boleh ngabisin sekitar 30% dari pendapatan kamu. Tapi balik lagi ya, kondisi ekonomi setiap orang kan berbeda-beda. dan pada akhirnya rasio utang yang baik itu sendiri bisa beda-beda tiap orang. Tergantung jumlah pendapatan dan biaya hidup sehari-hari.

Kalau misalkan biaya hidup kamu cuma menghabiskan 35% dari pendapatan bulanan kamu, tentu kamu bisa punya rasio utang yang lebih tinggi. Misalnya 50% dari pendapatan. Karena kamu punya kemampuan untuk membayar cicilan tersebut. Sebaliknya nih, kalau biaya hidup kamu menghabiskan 80% pendapatan bulanan, berarti rasio utang yang baik bagi kamu tuh lebih kecil lagi. Sekitar 10-15% . Dengan melihat rasio utang ini, kamu jadi bisa tahu nih utang kamu masih wajar dan bisa dipertanggungjawabkan atau tidak?

Prinsip yang sama juga bisa kita terapin untuk melihat utang perusahaan, bahkan utang negara. Misalnya nih, kalau sebuah perusahaan mutusin buat ngajuin utang ke bank. Kita bisa ngeliat nih, utangnya itu dipakai buat hal konsumtif atau dipakai untuk hal produktif. Utang perusahaan yang bersifat konsumtif itu misalnya utang buat renovasi ruangan yang ga berdampak terhadap peningkatan produksi, liburan kantor, hingga membeli fasilitas hiburan bagi para bos dan karyawan. Terus utang produktif perusahaan kayak gimana? Sama aja dengan definisi sebelumnya. Utang produktif bagi perusahaan itu adalah utang yang dipakai buat hal-hal yang bisa berkontribusi untuk menambah penghasilan perusahaan di masa depan.

Misalnya utang buat ekspansi bisnis, beli lahan untuk dibangun pabrik baru, beli mesin produksi, renovasi buat ningkatin kapasitas produksi dll. Dalam konteks berutang ini, bukan berarti perusahaan tuh ga boleh punya fasilitas yang baik ya untuk karyawan. Tapi sebaiknya, yang namanya utang itu alokasinya harus proporsional. dan memprioritaskan hal-hal yang sifatnya produktif.

Dalam kacamata berbisnis , punya hutang ke bank itu udah jadi hal yang wajar banget. Tapi dalam hal ini, pengusaha sebaiknya lebih cermat dalam menilai apakah utang perusahaan tersebut sehat dan bisa dipertanggungjawabkan. Caranya adalah dengan menghitung proporsi alokasi hutangnya. Berapa banyak sih untuk hal produktif? dan berapa banyak untuk hal konsumtif.
Selain itu, kemampuan perusahaan tersebut untuk membayar utangnya di masa mendatang juga perlu diperhitungkan. Cara ngitungnya ya sama aja kaya utang pribadi. Kita bisa ngeliat rasio utang tersebut dibandingkan dengan pendapatan, atau dengan ekuitas sebuah perusahaan.

Terus kalau utang negara gimana? Sebetulnya sama aja. kita bisa ngeliat alokasi penggunaan utang negara itu untuk hal yang produktif atau konsumtif. Utang konsumtif negara itu misalnya utang yang dipakai buat renovasi gedung pemerintahan biar jadi lebih mewah. Dipakai buat fasilitas para pejabat, untuk kenaikan tunjangan PNS, atau bahkan buat subsidi BBM. Semua hal tersebut adalah anggaran konsumsi.

Alokasi utang negara yang produktif itu kaya gimana? Ya sesuai dengan definisi sebelumnya , utang yang bisa membuat sumber penghasilan baru. Contohnya utang buat bikin proyek pembangunan yang nantinya jadi sumber penghasilan baru bagi negara. Kaya jalan tol, bandara, rumah sakit dll. Kalau negara berutang gimana? apa sebaiknya negara ga usah berhutang aja? Dalam skala kenegaraan utang negara itu udah jadi hal yang biasa. Bahkan dari total 195 negara yang ada di dunia ini, 97% dari total tersebut punya hutang loh, jadi 190 negara itu berhutang haha. Negara-negara maju yang ekonominya sudah sangat kuatpun masih punya hutang. Seperti Amerika, Jerman, Inggris, Korea, Jepang dll. Yang perlu dikawal dan diperhatikan itu adalah pengelolaan dan pengalokasian hutangnya. Apakah utang yang dialokasikan untuk hal produktif atau konsumtif?

Selain pengelolaan dan pengalokasian dalam konteks utang negara juga perlu diperhitungin nih kemampuan bayar hutangnya. Biasanya tolak ukur yang dipakai itu adalah rasio utang terhadap pendapatan domestik bruto. Untuk Indonesia sendiri, batas aman utang indonesia itu 60% dari pendapatan domestik bruto.

Walaupun prinsipnya sama, dimana utang itu sebaiknya digunakan untuk hal-hal yang produktif , tapi dalam konteks kenegaraan, kadang utang konsumtif yang tujuannya untuk mempercepat kesejahteraan rakyat juga biasa dilakuin. Karena dalam bernegara tujuan utamanya tuh bukan untuk berbisnis. melainkan untuk membangun kesejahteraan rakyat.

Bagi yang ingin bertanya silahkan tulis di kolom komentar ya

Flower photo created by kbza – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *