Tidak sedikit yang memilih reksadana pertama kali. Jadi kali ini akan dibahas cara memilih reksadana.

Pertama yang akan dibahas adalah investasi itu bukan melulu soal return. Ketika ada reksadana yang return nya naik tinggi pada 1 masa, ternyata di masa yang akan datang justru mengalami penurunan yang cukup besar, bahkan lebih besar daripada kenaikan sebelumnya. Seharusnya dalam mencari produk reksadana, justru mencari return nya stabil dan mampu mengungguli kinerja index acuannya.

Jadi kalau anda membeli reksadana secara konvensional, misalnya membeli reksadana saham, syarat yang pertama adalah cari yang stabil dalam jangka panjang dan mampu mengalahkan kinerja indeks acuannya. Bukan artinya tidak pernah minus ya. Misalnya ketika IHSG turun 5%, reksadana pilihan anda ternyata turun 2%. Ini artinya sebuah kinerja yang bagus, mampu mengerem ketika penurunan terjadi dalam, dia bisa lebih meredam.

Sedangkan ketika dia mengalami kenaikan, misalnya 5%, ternyata reksadana tersebut mengalami kenaikan sampai dengan 7%. Ini juga bagus, kenapa? Karena turun bisa meredam, naik bisa mengungguli. Jadi banyak juga reksadana yang tidak bisa melakukan hal seperti ini dan ini menjadi salah satu perhatian khusus, yang intinya adalah tolong jangan anda terlena dengan return yang tinggi pada satuan jangka pendek.

Kedua adalah aset kelolaan, aset kelolaan disebut dengan AUM atau Aset Under Management, apa yang bisa kita baca dari AUM? adalah semakin besar sebuah reksadana aset kelolaannya maka dapat menjadi salah satu tanda bahwa reksadana ini diminati oleh orang banyak dan artinya bisa juga memiliki kinerja yang bagus. Kenapa? karena prinsip dasar yang paling bodoh yang bisa dikatakan adalah money is fungible artinya uang selalu mengalir ke tempat yang menyenangkan dan menguntungkan, ya menjadi salah satu trigger bahwa kenapa orang-orang itu justru menaruh uangnya pada kelolaan aset reksadana yang tersebut.

Selanjutnya adalah expense ratio. Expense ratio ini asal anda tahu meskipun hari ini banyak aplikasi yang menggratiskan biaya beli dan jual yang disebut subscription dan redemption, reksadana tetap berbiaya sebenarnya, namanya adalah biaya pengelolaan, atau management fee, nah tidak semua aplikasi online hari ini menampilkan expense ratio. Expense yang semakin besar, tentunya akan memberikan tanda bahwa biaya pengelolaan atas produk itu semakin tinggi dan tentunya kita tau ketika biayanya tinggi dan kinerjanya tidak begitu bagus maka secara otomatis biaya akan menggerus daripada returnnya. Oleh karena itu expense ratio ini perlu menjadi salah satu perhatian khusus.

Keempat adalah menggunakan tools yang membantu dalam memonitor. Tidak semua orang mau ambil pusing. Contoh sederhana saya mau cerita kepada anda semua, ketika saya mau memulai 15 tahun yang lalu memulai dari nol, mau tahu mengenai investasi dan pasar modal, bersama beberapa teman saya, akhirnya hanya saya yang mau gemar berbagi. Gemar melakukan riset dan analisa. Bila anda tidak suka melakukan riset dan analisa, karena mungkin kesibukan pekerjaan anda hari ini, maka menurut saya anda harus bisa dibantu oleh tools yang bisa membantu anda memonitor kinerja reksadana. Bahkan bisa membantu memberikan saran, atas reksadana mana dari sekian reksadana yang harus anda pilih. Salah satu contoh adalah aplikasi bibit dengan tools robo advisor memberikan bantuan kepada anda untuk memilihkan atas dasar-dasar step investasi memilih reksadana yang tadi sudah dibahas.

Terkait dengan return juga sebenarnya ada bagian kecil yang saya tidak bahas adalah ketika saya katakan bisa naik dan bisa turun bisa mengungguli kinerja indeks tersebut disebut dengan draw down yang ada di dalam metodologi. Istilah investasi yang kita perlu ketahui.

Jika anda membutuhkan aplikasi keuangan dan jasa perencanaan keuangan bisa komen di bawah ya.

Flower photo created by kbza – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *